Tentu saja aku bukannya mau membuka luka lama.
Halo, teman-teman. Berhubung senin depan saya udah mulai try out, jadi, saya mau post yang banyak di sini. Supaya blog ini enggak begitu sepi sewaktu saya tinggal.
Jadi, seperti yang udah saya bilang di judul. Saya mau nyeritain soal patah hati yang pernah saya alamin.
Karena perlahan saya menginjak masa pubertas, udah pasti dong seperti kebanyakan cewek normal lainnya, saya mulai suka sama cowok. Awalnya, saya nggak tahu apa yang terjadi sama diri saya--mungkin saya tahu, cuma agak linglung aja. Soalnya yah, tiap deket sama cowok yang, dulu pernah duduk deketan dengan waktu SD, ada sesuatu yang bikin jantung saya enggak karuan. Maksud saya, memangnya wajar kalau cewek seperti saya--yang waktu itu masih kelas satu SMP, merasakan jantung yang berdetak lebih cepat dibanding hari-hari biasanya?
Aku enggak tahu. Aku bingung.
Tapi setelah beberapa waktu menghabiskan waktu dengan bertanya-tanya, akhirnya saya sadar ; saya jatuh cinta. Sungguh, saya bukannya mau menye seperti di sinetron atau apa. Tapi seriusan, deh, saya tahu kalau saya mulai suka sama cowok itu. Dan suka dalam artian saya itu--bukan suka yang sebenarnya. Toh, rapot saya juga nilainya nggak bakal langsung tinggi kalau ada cowok yang bilang cinta ke saya.
Tapi tetep aja. Yang namanya semua hal yang kita kerjakan itu ada konsekuensinya. Tapi saya nggak mikirin hal itu, saya cuma tahu kalau suka sama orang itu indah. Titik. Saya nggak sadar kalau yang namanya suka, pasti ada satu yang membuat luka.
Dan saya baru sadar ketika cowok itu menjauh, dan menyakiti saya tanpa suara.
Kata temen saya, anggap aja nama dia Mawar, temen satu SD dan satu kelasnya cowok yang saya taksir. (Sebelumnya, mari kita panggil cowok ini dengan nama Bi). Mawar bilang, dia keceplosan ngomong ke si Bi kalau saya suka sama dia.
Ya Tuhan.
Saya kelabakan. Saya bingung, nggak tahu lagi harus gimana. Soalnya rahasia ini tuh saya simpan rapat-rapat. Cuma saya kasih tahukan ke sahabat-sahabat saya. Dan, yah, perlahan saya takut, bagaimana kalau misalkan Bi marah sama saya?
Pikiran-pikiran buruk mulai muncul di kepala saya.
Saya nggak tahu. Mungkin saya yang terlalu berlebihan atau apa. Tapi pada akhirnya, ketakutan saya terbukti. Masih hari yang sama ketika Mawar menceritakan soal hal tadi, ketika pulang sekolah, Bi enggak mengacuhkan panggilan saya, sama sekali. Cuma melengos sambil menambah kecepatannya naik sepeda.
Saya bingung.
Saya nggak tahu kalau misalkan, dicuekin sama seorang cowok bisa sebegini sakitnya.
Tapi ketahuilah, Kawan. Yang tadi itu masih belum seberapa. Karena beberapa hari kemudian, tepat di waktu pemilihan OSIS, saya merasakan patah hati yang lebih hebat lagi. Waktu itu saya lagi bersantai di dekat lab IPA, yang waktu itu dijadikan seperti TPUnya sekolah saya. Saya masih nunggu giliran, lama. Karena kebetulan lab IPA itu ada tepat di depannya kelas si Mawar dan Bi, saya diajak ngobrol bentar sama Mawar.
Saya pikir ini cuma obrolan biasa, jadi saya nurut. Daripada capek nunggu sambil bengong, kan. Tapi tiba-tiba, pembicaraan Mawar akhirnya nyerempet ke cowok itu. "Moonlight, lo jangan sedih oke. Biasa aja ya," katanya sebelum dia mulai bercerita.
Saya nggak tahu dia mau ngomong apa. Soalnya, yah, sejak SMP kan saya udah enggak tahu apa-apa lagi soal si Bi. Saya mengangguk. Kemudian, setengah berbisik sambil menatapku iba, cewek itu melanjutkan. "Tadi pas di kelas, gue denger Batu (nama samaran) mintain PJ (Pajak Jadian) ke Bi. Pas gue tanya si Batu, 'pj sama siapa?' si Batu jawab kalau Bi habis jadian sama kakak kelas."
Saya berusaha keras untuk tampak biasa aja.
Tapi rasanya, seperti ada sesuatu yang retak di hati saya. Waktu itu saya nggak mau ambil pusing. Hak-hak dia kan mau pacaran sama siapa aja. Lagian, kan, saya masih kelas satu SMP waktu itu. Harusnya saya enggak sebegini addicted sama si Bi. Tapi kan, tetep aja, saya nggak bisa ngeabaiin hati saya yang mulai pecah.
Saya nangis. Soalnya saya nggak tahu harus buat apa.
Jadi saat itulah, saya merasakan untuk pertama kali, patah hati gara-gara seorang cowok di dunia nyata.
Dan percaya atau enggak, setelah dua tahun lebih, saya masih berharap pada cowok yang sama. Iya, berhubung saya masih satu sekolah sama si Bi, apalagi, kelasnya dia ada tepat di depan kelas saya. Saya makin nggak bisa ngehindarin tatapan matanya yang menusuk.
Dia udah ganti pacar kok. Berkali-kali malah. Yang sekarang, dia pacaran sama cewek yang pernah saya kenal, yang saya anggap teman. Sementara saya, masih dengan bodoh menunggunya. Yang sepertinya enggak bakal pernah membuka hati pada saya.
Untuk, Patah Hati pertama saya.
Saya harap kamu bahagia.
Dan sadar kalau saya di sini selalu berharap.
(P.s : beberapa adegan ada yang saya dramatisasi karena saya lupa bagaimana kejadiannya.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar