Kamis, 17 Agustus 2017

Untold (Chapter One)

Untold (a word that means a world)

Cast :
- Justin Bieber as himself
- Barbara Palvin as Stephanie Hugh/Stephanie Jeon
- Kim Taehyung as himself
- Kendall Jenner as Lavender North
- Luke Hemmings as himself
- Kim Jisoo as herself

Chapter One - Begin

Gadis itu membiarkan setiap kata yang dia ucapkan bertransformasi menjadi uap. Melayang bergabung dengan oksigen dan karbonmonoksida di ruang sekitarnya. Manik safirnya mengawang lurus, seolah merefleksikan sebuah polaroid di masa lalu.

"Maksudmu, kau bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai detektif, begitu?"

Steph tak bisa memaksa reaktornya untuk membalas lebih dari menganggukkan kepala. "Aku tak tahu ... dia satu-satunya yang percaya. Saat Lav bahkan menertawai pikiranku--bilang itu konyol dan sebagainya."

Gadis di sampingnya, Kim Jisoo, Steph sudah menebak kalau dia akan meledak. Bukan salahnya kalau Jisoo jadi begitu emosional, dan bertingkah berlebihan semacam ini.

Cewek kelahiran Daegu itu punya hormon yang tak bisa dikontrol. Layaknya seorang ibu yang peduli penuh soal kehidupan anaknya. Dan memang begitulah fakta yang terjadi. Di sini, di London, Jisoo adalah ibu bagi Steph--cewek yang pertama kali berkenalan dengannya di konser boygroup di Seoul.

Cewek itu menghela napas panjang. "Kau tolol, Steph," katanya, dengan bahasa Inggris yang medok parah dan penekanan yang cukup panjang di akhir kata. "Tidakkah kau berpikir kalau dia cuma membuat semacam ... lelucon? Dia cuma mau menertawaimu, harusnya kau sadar sejak awal."

Steph cepat-cepat menggeleng. "Tidak, Jisoo, aku yakin Bieber bukan orang seperti itu," sangkalnya, sambil memejamkan mata. "Aku bisa lihat ... aku tahu dia serius."

Jisoo balas menepiskan tangan, seolah menyapu udara. "Blah, omong kosong," katanya, "Siapa pun punya bakat akting semacam itu."

Steph menunduk, lelah berdebat. Dia tahu Jisoo itu tak akan mau kalau pendapatnya digoyah. Sekali dia bilang ini, maka selamanya pun akan seperti itu. Lagipula, terserah kalau cewek yang setahun lebih tua dibanding dirinya itu melarang. Segala hal sudah terjadi, Steph tak mungkin mengacau janji yang sudah dia buat.

"Omong-omong, Steph," cewek di hadapannya kembali bersuara. "Kau belum menceritakan apa yang terjadi dengan Taehyung-ah padaku."

Lapisan iris safir Steph berkilat, sewaktu dia mengangkat kepala dan menyorot ke arah Jisoo. Cewek itu memang mengenal Taehyung, bahkan dia sendiri yang mengenalkan Steph pada cowok itu. Taehyung sudah mengenal Jisoo sejak lama, sewaktu mereka masih tinggal bersebelahan di Daegu.

Dan itu pun berlanjut hingga kini, di mana keduanya memilih melanjutkan pendidikan di salah satu universitas London.

Steph meneguk ludah, menepis segala bayang mengerikan yang tak henti menyerang cerebrumnya. Tentu saja, dia sudah mendemonstrasikan soal ini di pesta Taehyung kemarin. Semua orang tahu dan tak peduli.

Jisoo pun berhak tahu. Dan kalau misalkan cewek itu menaruh simpati dan bukannya caci maki, itu tidak salah kan?

Jadi, sambil menarik napas panjang, Steph memulai ceritanya.

*

Steph dan Taehyung sudah berpacaran sejak lama. Sewaktu cewek itu masih tinggal di Seoul bersama adik tirinya--Jungkook. Keduanya terkoneksi di banyak hal : tokoh idola, gaya berpakaian, tipe musik, bahkan tingkah yang ajaib.

Apalagi kehadiran Jisoo di antara mereka yang layaknya seorang cupid.

Dan sewaktu itu, tepat di tahun kedua mereka jadi sepasang kekasih, Steph menemukan gelagat yang tidak beres.

Taehyung bukan lagi seorang pemalu yang bersembunyi bersama teman satu rasnya. Lingkup pergaulannya semakin luas, yang bahkan Jisoo pun tak sanggup lagi melarangnya berbuat ini dan itu. Dia kenal banyak orang baru : Lavender North, Lucas Hemmings, Justin Bieber, dan banyak lagi.

Tapi tentu saja, masalah sebenarnya adalah soal Lavender.

Cewek itu punya tingkah yang begitu mencolok. Wajah yang tak pernah absen dari riasan make up, sepatu ber-hak super tinggi, dan pakaian yang seolah kekurangan bahan. Steph benar-benar tidak suka. Apalagi sejak Taehyung mulai mengadakan pesta tidak jelas di apartemennya.

Tapi ada satu hal yang tidak dia mengerti.

Sewaktu membersihkan apartemen Taehyung yang sumpah kotor bukan main, Steph menemukan sekeranjang bunga. Bunga lili, tepatnya, dan sebuah korek api tepat di ujung ruangan. Tidak aneh, kan, kalau dilihat sekilas? Tapi Steph yakin ini tidak beres--bunga itu hanya berwujud kelopak dan bukan penampakan bunga umum. Memangnya Taehyung mau pergi ke pemakaman siapa hanya dengan satu jenis bunga?

Lagipula, apa untungnya menaruh korek api di sebelahnya?

Itu baru keganjalan pertama. Yang kedua, baru beberapa hari yang lalu, Steph menemukan sebuah pistol tergeletak di dashboard mobil pacarnya. Taehyung makin liar? Tidak, Steph yakin bukan begitu. Sebejat apa pun moral cowok itu sekarang, dia tak mungkin tega untuk menyakiti seseorang.

Steph mencoba berpikir positif, mungkin salah satu teman brengsek Taehyung meninggalkan benda itu di sana. Tapi itu bukan hal positif, malah semakin membayanginya tanpa ampun. Kalau temannya saja memiliki pistol, apa yang akan terjadi pada Taehyung kalau cowok itu mencari masalah?

Tapi seolah segalanya belum cukup, sesaat sebelum pesta kemarin dimulai, Steph menemukan satu hal tidak normal lagi. Sebuah tape-recorder dan selembar kertas kosong--dengan gambar yang benar-benar tidak enak dipandang. Tidak, tidak, bukan itu yang pertama kali menangkap personanya. Tapi sebuah boneka yang tergantung di samping benda itu, tepat di balik tirai di jendela.

Tidak mungkin kalau Taehyung sedang merencanakan sesuatu, kan?

Bahkan cowok itu kelihatan terkejut saat Steph memaparkan segalanya kemarin, sebelum Lav menyela dengan keras kalau itu cuma omong kosong. Steph bersumpah dia akan membalas perbuatan cewek itu suatu saat ini.

Pasti dia yang merencanakan semua ini.

Tapi yang tidak Steph mengerti, mengapa?

Mengapa seseorang berniat melakukan ini pada Taehyung?

"Jagi ...," seseorang di sampingnya bersuara. "Kau murung terus sejak tadi, kenapa?" (Sayang)

Steph buru-buru menolehkan kepala, memandang cowok yang punya senyum kotak itu dengan hampa. "Kau tidak percaya," balasnya, "Tidakkah kau mengerti kalau yang kukatakan waktu itu adalah kebenaran?"

Sambil memutar kemudi ke arah kiri, cowok itu menggeleng cepat. "Ani, aku percaya padamu, Stephie," elaknya, "Tapi itu tidak masuk akal." (Tidak)

Steph tak punya pilihan lain selain memalingkan muka. Cewek itu paling benci dengan perdebatan, itu juga sebabnya dia meninggalkan pesta kemarin malam. Dan berdebat dengan Taehyung tentu saja ada di urutan terakhir daftar hal yang ingin dia lakukan.

Biarkan saja waktu yang menjawabnya. Steph hanya perlu mengawasi, kalau-kalau ada keanehan lagi. Seperti kata Bieber beberapa di telepon beberapa waktu lalu.

"Kau benar, Oppa, aku memang tidak waras," ujarnya, tanpa sekalipun menghiraukan tatapan Taehyung yang berubah sendu. "Kau punya air minum?"

Mereka sudah tiba di kampus, dan Taehyung sudah menghentikan mobilnya beberapa menit yang lalu. Cowok itu kini menyorotnya dalam, seolah mengindikasikan sinyal 'maafkan aku'. Steph tahu dia pasti merasa tersinggung dan bersalah gara-gara ucapannya barusan. Tapi cewek itu tidak punya niat untuk meminta maaf.

Jadi, sambil menarik kunci mobil, Taehyung berkata, "Aku bawa sebotol di tas."

Tanpa banyak bicara, cewek itu menarik tas punggung Taehyung yang berada di dekatnya. Menarik ritsleting paling atas membuka, kemudian merogohkan tangan untuk mencari sebotol air mineral. Tapi tidak, bukan itu yang terjaring jemarinya pertama kali.

Tapi sebuah kertas yang sama yang dia lihat di balik jendela. Dengan corak norak yang sama persis--Steph yakin ini bukan kertas yang berbeda. Tapi ada satu hal yang tidak ada pada kertas sebelumnya.

Sederet tulisan.

*

"Kau yakin itu kertas yang sama, Steph?" Suara di ujung sana bertanya ragu.

Steph mengangguk, kemudian segera dia sadari karena itu perbuatan tolol. Bagaimanapun sebuah anggukan tidak bisa terkirim lewat telepon. Jadi dia membalas, "Benar, aku yakin seratus persen."

Tepat di sela-sela pergantian kelas, Steph melipir sebentar ke toilet putri. Cewek itu cepat-cepat menelepon Bieber, si detektif yang Steph tak tahu tinggal di mana. Masih ada sisa waktu lima belas menit untuknya berbincang, dan ini benar-benar darurat. Dan untung saja Bieber tidak dalam mode sibuk.

Cowok di ujung sana berdehem kasar. "Kau yakin tulisan di dalamnya bukan tulisan Taehyung?"

"Betul, Bieber, aku hafal betul bentuk tulisan pacarku. Dia tak pernah membubuhkan titik di huruf i-nya," Steph menyahut.

Terdengar suara kresek-kresek untuk beberapa saat, sampai Steph berniat untuk memutus sambungan teleponnya. Sebelum kemudian suara Bieber yang berat dan kedengaran lebih cempreng muncul kembali. "Bagus, Steph, sejauh ini dugaan kita benar. Pacarmu dalam bahaya."

"Tapi--"

"Apa, Stephanie Jeon? Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas. Di sini ... terlalu ... euh," Bieber itu mulai meracau tidak jelas. Steph mengerutkan alis, tidak paham akan apa yang terjadi. "Kau awasi saja Taehyung, oke? Aku harus ... ada urusan ...."

Dan sambungan terputus begitu saja.

Steph mendengus, sambil mengerling kecil ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggal delapan menit, dosennya pasti sudah dalam perjalanan ke kelas. Cepat-cepat cewek itu melangkahkan kaki, berlari dengan kecepatan super agar tidak terancam hukuman.

Tapi tunggu sebentar, ada sesuatu yang tidak beres.

Heck, si Bieber itu bahkan tidak menyinggung soal isi surat sama sekali.

* To be Continued *

Aduh, maaf banget ya aku udah lamaaaaaa banget nggak apdet. Selain karena ada novel lain yang harus cepat aku selesaikan di wattpad, juga karena aku lagi bete banget. IH SUMPAH AKU KESEL BANGET SAMA BELIEBER YANG NGATA-NGATAIN BTS. huhuhu.

Tapi, ya udah lah, itu udah lewat dan aku lagi kebanjiran inspirasi. Maaf ya ngaret berminggu-minggu. Ini udah panjang belum? Justin-nya baru muncul dikit-dikit nih heuheuhe. Tapi nanti bakal banyak kok scene-nya sama Steph (dasar spoiler).

Ehehe, minta krisarnya dong. Komentarnya yang panjaaaaaang ya, biar aku semangat ngelanjutinnya. Partnya juga udah panjang kan. Ayo dong kasih aku semangat! Kasih tau tanggapan kalian pas baca ff ini. Hehehe.

Thank you.

- Priha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar