Di beberapa post yang lalu, saya udah janji mau ngasih tau contoh pembawaan yang klise. Atau, bisa dibilang, kesalahan yang paling sering dilakukan sewaktu membawakan sebuah cerita.
Saya tau cerita saya juga masih belum bisa dibilang wow. Tapi, enggak ada salahnya kalau saya mau berbagi, kan? Di sini kita belajar bareng-bareng. Saya ngasih tau kamu ilmu yang sudah saya ketahui, dan kamu ngoreksi saya kalau misalkan saya salah.
Clear.
Jadi, dari pada basa-basinya malah sepanjang kakinya Jaehyun, mendingan kita mulai aja ya.
Pembawaan yang klise, eum, saya sendiri juga belum begitu paham sama konsep ini. Kalau dibilang begini, takutnya malah begitu. Ya udah, saya jelasin aja menurut penafsiran saya sendiri. Kalau saya salah, kan, saya bisa berkilah kalau ini cuma opini, hehe.
Jadi, pembawaan yang klise itu apa aja sih?
1) Pembukaan yang kurang ngena.
Ini udah pernah saya bahas di bagian 'Cerita yang Klise Mampus' dan saya juga udah ngasih beberapa contohnya. Tapi kalau kalian lupa, ya udah, saya jelasin lagi.
Pembukaan yang kurang ngena itu, tipe-tipe awal cerita yang bikin pembaca rolled eyes sambil bilang dalam hati, "apa sih?"
Bukan jelek. Cuma ya, kurang dipoles aja. Jadinya pembaca banyak yang nggak betah dan langsung ninggalin cerita kamu. Unch, kesalahan ini, menurut saya, adalah kesalahan paling fatal--sefatal salah saat pemilihan judul. Karena, yah, bisa aja kan cerita kamu yang wah itu jadi sedikit banget peminatnya gara-gara pembukaanmu yang kurang ekstra itu?
Bahkan, di beberapa tips menulis, saya selalu menemukan kalimat--kalimat aslinya bukan gini, saya agak lupa. Tapi ya udah deh saya jelasin pakai kalimat saya sendiri--, "Paragraf Pertama adalah akar dari segala rasa suka."
Kalau paragraf pertama kamu bagus, kemungkinan pembaca nyelesaiin sampai akhir jadi makin besar. Tapi kalau paragraf pertama kamu biasa-biasa aja, ya, gitu deh akhirnya.
Butuh contoh paragraf pertama yang masuk kategori 'kurang ngena'? Ya udah, saya ambilin dari salah satu cerita 'aib' saya ya. (Tolong jangan ketawa sewaktu baca cuplikan ini.)
Zayn Malik, siapa yang tak mengenalnya? Pria jebolan X-Factor bersama grup band-nya, One Direction, ini sudah menjadi pria paling populer tahun ini. Zayn memiliki nama asli Zayn Jawadd Malik, namun dia lebih senang mengejanya dengan Zayn Javadd Malik. Ia memiliki seorang adik perempuan yang bernama Prihatini Calerrie Malik, atau yang akrab disapa Priha.
(ini bukan paragraf pertama lagi lol)
Unch. Sewaktu baca paragraf di atas, apa yang kalian rasain? Jijik? Prihatin? Mau muntah? Ya udah, nggak papa. Saya sendiri juga ilfeel kok. Di atas itu termasuk pembukaan yang kurang ngena karena, terlalu muter-muter. Dan yah, terlalu pasaran juga.
Kenapa enggak langsung ke intinya aja? Kenapa pakai nyeritain soal Zayn yang anu yang beginu? Kenapa enggak langsung ke konflik? Kenapa? K E N A P A?
(omong-omong, lihatlah, betapa alaynya saya sampai bikin nama saya sendiri buat jadi tokoh utamanya!)
Oke. Ini subjektif. Tapi buat saya, pembukaan yang ngena itu yang langsung ngasih konflik di awal. Yang bikin saya bertanya-tanya, ini ada apa? Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?
Coba bandingin sama yang ini. Paragraf pertama dari novel saya yang masih mengendap di draft dan enggak tahu kapan selesainya. :
LINTANG PRAKASA PUNYA PACAR BARU.
Begitu kabar tersebut merebak ke seluruh sekolah, mau tidak mau, Airin mengunci mulutnya rapat-rapat. Memberikan segala doktrin dan titah untuk mengukung segalanya dalam-dalam. Tanpa membiarkan seorang pun merengkuh, meraih ketidakpastian yang selama ini dia buang jauh-jauh.
Bukan berarti gara-gara saya yang makai cerita saya sendiri buat contoh, saya langsung ngerasa cerita saya yang paling bagus gitu. Enggak. Saya masih belajar. Dan lagipula, saya mikirnya gini. Yang kurang ngena kan contohnya pakai cerita saya, berarti yang ada perkembangan harus pakai cerita saya juga dong! Ya udah deh, saya pakai cerita itu.
Kalian bisa bandingin sendiri. Lebih bikin penasaran yang mana, cerita versi atas atau yang versi bawah. Kalau menurut saya sih, saya lebih penasaran sama yang bawah. Nggak tau deh kalau Mas Anang.
Ya udah ya, kayaknya ini udah panjang banget. Jadi saya bakalan misahin tips ini buat jadi beberapa bagian. Biar tangan saya nggak begitu keriting sih. Ntar kalau saya sakit, kan Mas Suga juga yang khawatir. Hehe.
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa!
- moonlight
Kamis, 23 Maret 2017
Karena Tipikal itu Saya Suka
"karena yang klise itu, biar gimanapun, adalah yang paling disukai."
Saya pernah bikin tips di wattpad saya, soal hal-hal klise macam apa yang harus dihindari. Saya masih inget banget kalau bahasa saya waktu itu masih kasar banget dan, yah, saya tahu. Sewaktu kalian membaca ini, tolong, saya mohon, jangan membuat saya merasa stigma atau memberi sinyal-sinyal negatif kepada saya.
Karena sekarang, saya akan membahas sesuatu yang kontradiksi.
Saya pernah bilang kalau cerita klise itu, cerita yang pasaran dan yah, terlalu gampang ditebak. Dan sekarang, saya bakal bahas soal cerita klise itu sendiri.
Kenapa sih, sebuah cerita bisa masuk ke kategori klise?
Jawabannya, ya, karena cerita itu banyak yang minat.
Jadi gini, menurut penafsiran pribadi saya, cerita klise itu ceritanya berjuta umat. Formula yang udah ditulis berkali-kali. Istilah pendeknya, pasaran.
Tapi buat saya, ide klise itu nggak papa kok.
Sekarang, sudah cukup kesel sama kelabilan saya?
Jadi sebelum kalian berpikir macam-macam, saya tegasin. Di wattpad saya @moonlight-ty saya ngebahas soal pembukaan cerita dan karakter yang klise. Dan bukan keseluruhan cerita itu sendiri.
Karena sebenarnya, saya suka sama cerita yang klise.
Kenapa sih banyak bertebaran cerita yang klise? Karena ide yang mereka pakai itu terkenal.
Kenapa bisa terkenal? Karena banyak yang suka!
Oke, sekarang, kalian udah tiba di inti yang mau saya sampaikan.
Punya ide klise itu enggak apa-apa kok. Asal cara kalian mengemasnya itu enggak klise.
Masih bingung?
Ya udah, saya jelasin.
Jadi gini, ide yang klise itu apa aja sih? Cewek-cowok musuhan dulu baru saling cinta, itu klise. Kisah cinta cowok kaya dan cewek miskin, itu juga klise. Suka sama kakak kelas dingin yang ternyata ngegebet sahabat kita sendiri, itu apalagi.
Tapi enggak bisa dipungkiri, cerita modelan begitu yang paling banyak penggemarnya. Menurut kacamata saya.
Cerita itu punya banyak potensi buat bikin pembaca suka, kalau pembawaan kamu enggak klise juga. Pembawaan yang klise maksudnya gimana? Itu bakal saya bahas di post-an yang akan datang.
Jadi, intinya, ide cerita yang klise itu enggak apa-apa. Asal kalian bisa memoles cerita kalian supaya enggak begitu menunjukkan ke-klise-an yang kalian tawarkan.
Ya udah ya, saya udah bacot banyak banget. Nanti kalian gumoh. Lagian saya udah ditungguin Taehyung buat belajar UAS bareng. Hehe.
Salam cinta
Moonlight
Sabtu, 18 Maret 2017
Butterfly
Like a butterfly
Satu dari sekian banyak hal yang membuat saya baper di dunia ini adalah, lagu. Oke, saya tahu selera musik saya itu bukan yang spesial banget seperti kebanyakan tokoh utama di novel remaja. Karena,yah, saya penggemar lagu-lagu populer.
Tapi di atas segalanya, saya suka lagu mellow.
Dari jaman dulu. Sewaktu saya masih ngefans sama CJR dan artis Indonesia lainnya. Tanya aja lagu favorit saya dari setiap artis yang saya tahu, pasti saya bakalan jawab lagu yang paling galau.
Kayak, Close as Strangers-nya 5 Seconds of Summer, Moonlight-nya EXO, Paradise-nya NCT, sama Rain-nya BTS.
Enggak tahu kenapa saya suka banget sama hal-hal yang bikin saya nangis keras.
Contohnya cowok itu.
Sebelumnya, sebelum bahas soal cowok brengsek yang matahin hati saya dengan begitu hebatnya, saya mau cerita dulu. Tadi pagi, karena saya baru jadi ARMY dan lagu BTS saya masih sedikit, saya mutusin buat download lagu mereka yang lain. Saya cari deh rekomendasi lagu mereka yang galau.
As always.
Dan kemudian, saya nemu lagu ini.
Butterfly.
Dari awal aja, saya udah tertarik sama judulnya. Kupu-kupu. Di pikiran saya, ada apa dengan kupu-kupu sampai bikin lagu ini baper?
Dan ternyata...
gyeote meomulleojullae
Naege yaksokhaejullae
Saya nggak tau liriknya, soalnya itu juga saya downloadnya pas mrepet paketan saya mau habis. Tapi dari uraian yang saya baca. Lagu ini persis seperti yang saya alami.
Jadi gini, saya suka sama cowok. Udah sejak lama, sejak kami masih sahabatan beberapa tahun yang lalu.
Buat saya, dia itu kupu-kupu, cantik dan saya suka. Seperti kupu-kupu yang sedang hinggap di suatu tempat enggak jauh di depan saya. Dengan anggunnya dia menarik hati saya, membawa saya mengikutinya.
Tapi tangan saya, yang begitu berharap akan kecantikannya, tidak bisa sekalipun menggapai. Atau sekadar menampakkan diri saya di dekatnya.
Karena saya tahu, saya cuma akan membuatnya terbang jauh dan tinggi.
Butterfly... Like a butterfly
neon machi butterfly
Dan cowok itu, cowok yang sama yang membuat saya merasa patah hati untuk pertama kali. Cowok yang sama yang membuat saya merasa jatuh : Bi.
Saya tahu saya sudah bersikap sangat berlebihan karena membahas cowok itu terus-menerus. Padahal, harusnya saya ngisi blog ini dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Tapi saya nggak tahu harus cerita lagi ke siapa.
Begitu denger suara Jungkook yang dalam dan memabukkan dari lagu ini, saya langsung inget cowok itu. Karena, pertama, seperti yang saya bilang, kisah lagu ini sama seperti saya. Yang cuma bisa mengagumi keindahannya dari jauh, tanpa bisa sekalipun menggapainya.
Dan alasan yang kedua, karena Jungkook adalah nama panggilan lain yang saya berikan pada cowok itu. Sewaktu saya curhat sama sahabat saya, saya manggil si Bi pakai Jungkook. Biar orang lain enggak tahu siapa yang lagi saya bahas. Soalnya, yah, nama panggilan mereka mirip. Kuki dan--ekhm.
Dan, ya udah deh, saya enggak mau bahas lebih banyak lagi. Nanti kalian gumoh gara-gara saya curhat soal Bi mulu.
Sampai jumpa!
- moonlight
Minggu, 05 Maret 2017
Saat Ide Mengajak Perang
Perang aja yuk!
Tunggu-tunggu, sebelum kalian berpikiran negatif soal post-an saya. Tarik napas dulu, yang dalam. Tahan tiga puluh--jangan deh, kelamaan, tahan sepuluh detik aja gitu dulu. Habis itu embusin. Terus pikir baik-baik ; saya nggak ngajak ribut kok.
Orang saya mau perang sama ide. Kok kalian yang ribet sih?
Iya-iya, saya tau sekarang saya malah nyari ribut beneran. Maafin tangan saya yang agak bandel ini ya.
Jadi, sebelum kalian ngoceh panjang kali lebar kali tinggi (dan jadilah rumus volume balok!) soal ide yang nggak bersalah, dan saya yang harus ikut menciptakan perdamaian dunia (seperti di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat). Saya mau tegasin, jadi saya mau bikin tag baru yaitu : tips menulis.
Iya, tau kok saya masih ecek-ecek kayak kecebong dan belum bisa dipercaya. Tapi apa salahnya berbagi, sih? Ya nggak? Hehe. Lagian, daripada blog ini saya isi sesuatu yang enggak bermanfaat dan ujungnya ghibah, kan lebih baik saya berbagi ilmu.
Selamat Pagi wahai pembaca yang budiman.
Budiman aja, kok. Nggak ada Tara-nya di depan. Soalnya kan, nggak mungkin artis kayak dia ngunjungin blog rakjel kayak gini.
Oke. Saya mulai ngelantur.
Jadi, seperti yang udah saya bilang di judul. Sekarang saya lagi ngerasain dimana ide ngirimin saya ajakan buat perang.
Seperti manusia yang punya dua sisi--buruk dan buruk banget, maksud saya, dan baik--, perang yang saya maksud juga ada dua makna. Seperti pepatah, 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jadi jomblo tersakit(i) dahulu, tertawa di atas penderitaan orang kemudian.' (ya ampun saya mabok lagi.), jadi, saya bakal utamakan tafsiran negatif dulu.
Perang dalam sisi negatif ya, gitu. Ya gitu.
Y a g i t u.
Oke serius. Maksud saya, perang dalam sisi negatif artinya, ya yang kayak ngajak tawur, yang bikin kesel. Dan sekarang, saya lagi ada di posisi ini. Soalnya, beberapa hari lalu, si ide ngirimin saya email, isinya gini : 'halo, moonlight. Perang yuk! Kalau lo nggak berani berarti lo cemen alias loser!' (kalian nggak mungkin percaya soal ini, kan?)
Kalian masih belum nangkap apa yang saya maksud? Ya udah, saya jelasin rinci.
Jadi, di tengah kesibukan saya menggarap novel pertama saya--yang punya nama Stitch & Pain--, dan mengumpulkan pasukan perang buat ngelawan tryout dan sebagainy. Si ide ini langsung main masuk ke otak saya, tanpa ketuk pintu dulu. Kan saya kesel.
Yah, gimana sih. Kan novel saya yang pertama belum selesai! Kenapa harus muncul ide yang nggak ada hubungannya sama sekali?!
Apa salah saya? A P A?
Tapi tenang, saya kan titisan superman. Jadi, saya udah nemuin solusi buat mengatasi masalah ini--buat kalian yang gatel pingin nulis cerita baru padahal cerita yang lama belum selesai. Solusinya adalah :
Tulis ide kalian di note.
Iya. Sesimpel itu. Kalian pasti udah nebak, kan? Tapi, serius deh, walaupun kelihatannya sepele, ini bermanfaat banget. Soalnya gini, kalau kita enggak segera nulisin ide itu, bisa aja kan ide kalian yang brilian dan indah itu kabur dan nyari orang lain buat dihinggapi? Jadi, kalian harus nangkep ide itu dulu, biar nggak keburu ditangkap sama penulis lain.
Tapi jangan langsung diuraiin jadi cerita baru!
Jadi, kalian tulis garis besarnya aja di note hp atau buku catetan kalian. Biar konsentrasi kalian buat nulis novel yang belum selesai itu nggak pecah. Biar kalian enggak lupa soal ide itu.
Kayak misalkan, pas lagi di kafe, kalian ketemu ada cewek yang lagi ngobrol sama baristanya. Terus, tiba-tiba ada ide yang hinggap di kepala kalian.
Gimana kalau misalkan cewek itu ternyata cewek yang ngejar-ngejar si barista di kampus? Dan ternyata si baristanya udah punya istri?
Waduh!
Nah, sekarang tahu kan pentingnya mencatat ide?
* t i p s m e n u l i s *
Perang versi kedua, adalah perang dalam konteks positif. Jadi, si ide ini, nggak kayak ide pertama yang nggak punya sopan santun, dia dateng pas kamu emang butuh banget. Jarang, sih, yang kayak gini. Soalnya, kan, ide itu datangnya nggak pasti ; kayak perasaanmu ke saya.
Tapi, yah, ide versi kedua juga ngajak perang. Tapi perang dalam versi kebaikan. Jadi dia kayak nyemangatin kamu dengan wajah paling cakep sambil bilang, "Ayo dong, Sayang, tuangin aku ke tulisan! Semangat!" *brb pasang wajah Taeyong Oppa *brb pingsan
Jadi, dia itu kayak nantang kamu buat bikin cerita soal dia. Nantang kamu buat nulis cerita baru. Yah, enggak jauh beda sama ide versi pertama, sih. Cuma yang versi kedua ini enggak terlalu bikin frustrasi.
Ya udah ya. Kayaknya ini udah panjang banget. Habis ini saya bakalan post tips menulis yang pernah saya upload di wattpad. Dengan beberapa perubahan, tentu saja. (silakan kunjungi akun wattpad saya di sini) pantau terus blog ini ya!
고맙습니다
사랑
Moonlight
Sabtu, 04 Maret 2017
Saya dan Jomblo
Saya nggak tahu ada hubungan apa antara saya dan jomblo.
Saya baru ingat. Kita kan belum kenalan secara resmi. Di post-an pertama saya yang nggak jelas itu, kan, saya cuma minta kalian buat manggil saya moonlight. Jadi, sekarang, kita kenalan lagi ya.
Seperti yang udah saya kasih tahu, kalian bisa manggil saya moonlight. Bukan gara-gara saya mau nyamar, atau mendadak amnesia dan lupa sama nama asli saya. (toh, kalian juga tetep bisa tahu nama saya dari kata 'diposkan oleh'...) Tapi gara-gara, enggak tahu kenapa, sekarang saya suka banget sama bulan.
Ketika tulisan ini dipublikasi--kali aja ada yang baca dari masa depan--umur saya masih empat belas, dan saya sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian nasional. Jadi maaf ya kalau misalkan blog ini mendadak banyak lumutnya atau apa.
Terus, sekarang saya lagi proses ngerampungin naskah novel pertama saya. (Soalnya belum resmi disebut novel kalau belum diterbitin, huhu.) genrenya teenlit, tipikal remaja seperti saya yang mikirnya cinta-cintaan mulu. Dan mendekati klimaks novel, saya malah dapet ide buat nulis cerita lain.
Kan brengsek.
Dan juga, sebelum alis kalian mengerut gara-gara banyaknya foto 'cowok cantik' di sini. Saya mau bilang, saya fangirl. Kalian pasti tau fangirl, kan? Iya, saya penggila cowok-cowok tampan nan cakep nan seksi itu.
Dan saya mau bilang, fangirl versi saya itu agak labil. Saya sudah jadi fangirl sejak SD. Kelas 5 saya ngefans sama Coboy Junior, dan member favorit saya Iqbaal, yang punya gigi behel itu. Tapi semenjak Bastian keluar, saya jadi agak males sama artis Indonesia--gitu-gitu semua. Dan yah, akhirnya saya pindah ke artis hollywood. Saya suka sama Justin Bieber.
Kalau saya jelasin satu-satu, pasti bakalan panjang banget dan bisa jadi cerpen. Ya udah, saya singkat aja. Jadi habis Justin Bieber, saya ngelirik boyband lagi. Dan yang jdi korban saya adalah One Direction.
Karena saya itu kalau ada member yang keluar jadi agak malesan. Jadilah, habis Zayn Malik keluar, saya langsung ngestan 5 Seconds of Summer habis-habisan. Dan sekarang ditambah, saya lagi kena demam Korea.
Saya jadi penggila beratnya EXO. NCT. Dan BTS.
Kalian udah tahu seberapa labilnya saya? Ya udah. Kalau gitu, maklumi aja ya kalau misalkan saya jadi labil banget suatu saat nanti.
Perkenalan aja bisa sepanjang ini ya. Kalau saya nulis autobiografi bisa sepanjang apa. Hahaha. Kalau kalian sebel dan bingung nyari hubungan antara perkenalan nggak penting ini dan jomblo. Bentar, bakal saya jelasin.
Kalian jangan mikir jomblo punya hubungan gelap sama cewek lain dulu!
Soalnya, gara-gara rasa fangirl saya yang enggak terbendung, kriteria saya jadi tinggi. Dan cowok-cowok jadi ilfeel duluan, kalau saya bandingin mereka sama idola-idola saya yang kece itu. Saya tahu mereka emang enggak tahu diri.
Jadilah, sejak empat belas tahun hidup, saya cuma bisa memandangi status teman saya dan pacarnya yang lewat di beranda. Tolong tambahkan dengan alis mengerut dan sambil menahan tawa. Soalnya, yah, tipikal remaja masa kini.
Statusnya alay abis.
Tapi saya enggak sepurba itu, kok. Seperti yang udah saya bilang di post-an sebelumnya. Sebagai seorang remaja, saya juga jatuh cinta. Dan sialnya, saya malah suka sama cowok nggak jelas kayak si Bi. (baca dulu siapa itu Bi di sini)
Saya bukannya mau koar-koar menyedihkan kalau saya itu jomblo. Enggak. Saya enggak sealay itu.
Saya cuma mau cerita aja, gimana kejombloan itu bisa melekat di diri saya.
Sebenernya, saya suka sama orang itu enggak ada kriteria. Kalau saya suka ya udah, suka. Mau dia tinggi, pendek, nggak punya alis, kayak kecebong. Kalau udah telanjur suka ya, gimana lagi?
Tapi masalahnya, kalau saya suka sama sesuatu dan saya belum dapetin dia. Hidup saya nggak bakal tenang. Saya bakal terus suka dan, yah, mengabaikan cowok-cowok di sekitar saya.
Saya enggak se-mengenaskan itu kali. Masih ada beberapa cowok yang ngedeketin saya, tapi nggak saya acuhkan. Soalnya, yah, hati saya udah milih orang lain. Harus gimana? (ya ampun bahasa saya udah cinta-cintaan kayak orang dewasa!)
Tapi sialnya, dengan wajah saya yang seperti ini. Enggak ada yang berani ngedeketin saya secara terang-terangan. Soalnya mereka bakal disorakin dan malu.
Dasar cowok munafik.
Tapi nggak papa sih, saya beruntung belum pernah ngerasain yang namanya pacaran.
Soalnya saja jadi manusia yang masih polos nan syucih.
Ya udah ya, kayaknya ini udah panjang banget. Nanti kalian capek bacanya. Wkwk. Salam jayus, dan Gomabseumnida!
(p.s : Jaehyun saja punya Haechan, masa aku tida?)
Kamis, 02 Maret 2017
Jatuh (Puisi)
Tuk. tuk. tuk.
setatap dalam bisik rasa yang rancu
kuterdiam, mengetuk
apakah ada sedikit celah dalam
jatuhmu?
aku meragu. aku membisu.
membiarkan partikel ketertarikan
mengikat rasaku denganmu
ling-lung. ku termenung
memeluk refleksiku yang
bersandingmu
bisakah, setelah segala rindu
titik buram itu melayang?
karena bersamaan tiap sekon
bergeming
kau menarikku jatuh lebih dalam
lagi
Lamongan, 02 Maret 2016
Bersama hati yang mulai jatuh
Patah Hati
Tentu saja aku bukannya mau membuka luka lama.
Halo, teman-teman. Berhubung senin depan saya udah mulai try out, jadi, saya mau post yang banyak di sini. Supaya blog ini enggak begitu sepi sewaktu saya tinggal.
Jadi, seperti yang udah saya bilang di judul. Saya mau nyeritain soal patah hati yang pernah saya alamin.
Karena perlahan saya menginjak masa pubertas, udah pasti dong seperti kebanyakan cewek normal lainnya, saya mulai suka sama cowok. Awalnya, saya nggak tahu apa yang terjadi sama diri saya--mungkin saya tahu, cuma agak linglung aja. Soalnya yah, tiap deket sama cowok yang, dulu pernah duduk deketan dengan waktu SD, ada sesuatu yang bikin jantung saya enggak karuan. Maksud saya, memangnya wajar kalau cewek seperti saya--yang waktu itu masih kelas satu SMP, merasakan jantung yang berdetak lebih cepat dibanding hari-hari biasanya?
Aku enggak tahu. Aku bingung.
Tapi setelah beberapa waktu menghabiskan waktu dengan bertanya-tanya, akhirnya saya sadar ; saya jatuh cinta. Sungguh, saya bukannya mau menye seperti di sinetron atau apa. Tapi seriusan, deh, saya tahu kalau saya mulai suka sama cowok itu. Dan suka dalam artian saya itu--bukan suka yang sebenarnya. Toh, rapot saya juga nilainya nggak bakal langsung tinggi kalau ada cowok yang bilang cinta ke saya.
Tapi tetep aja. Yang namanya semua hal yang kita kerjakan itu ada konsekuensinya. Tapi saya nggak mikirin hal itu, saya cuma tahu kalau suka sama orang itu indah. Titik. Saya nggak sadar kalau yang namanya suka, pasti ada satu yang membuat luka.
Dan saya baru sadar ketika cowok itu menjauh, dan menyakiti saya tanpa suara.
Kata temen saya, anggap aja nama dia Mawar, temen satu SD dan satu kelasnya cowok yang saya taksir. (Sebelumnya, mari kita panggil cowok ini dengan nama Bi). Mawar bilang, dia keceplosan ngomong ke si Bi kalau saya suka sama dia.
Ya Tuhan.
Saya kelabakan. Saya bingung, nggak tahu lagi harus gimana. Soalnya rahasia ini tuh saya simpan rapat-rapat. Cuma saya kasih tahukan ke sahabat-sahabat saya. Dan, yah, perlahan saya takut, bagaimana kalau misalkan Bi marah sama saya?
Pikiran-pikiran buruk mulai muncul di kepala saya.
Saya nggak tahu. Mungkin saya yang terlalu berlebihan atau apa. Tapi pada akhirnya, ketakutan saya terbukti. Masih hari yang sama ketika Mawar menceritakan soal hal tadi, ketika pulang sekolah, Bi enggak mengacuhkan panggilan saya, sama sekali. Cuma melengos sambil menambah kecepatannya naik sepeda.
Saya bingung.
Saya nggak tahu kalau misalkan, dicuekin sama seorang cowok bisa sebegini sakitnya.
Tapi ketahuilah, Kawan. Yang tadi itu masih belum seberapa. Karena beberapa hari kemudian, tepat di waktu pemilihan OSIS, saya merasakan patah hati yang lebih hebat lagi. Waktu itu saya lagi bersantai di dekat lab IPA, yang waktu itu dijadikan seperti TPUnya sekolah saya. Saya masih nunggu giliran, lama. Karena kebetulan lab IPA itu ada tepat di depannya kelas si Mawar dan Bi, saya diajak ngobrol bentar sama Mawar.
Saya pikir ini cuma obrolan biasa, jadi saya nurut. Daripada capek nunggu sambil bengong, kan. Tapi tiba-tiba, pembicaraan Mawar akhirnya nyerempet ke cowok itu. "Moonlight, lo jangan sedih oke. Biasa aja ya," katanya sebelum dia mulai bercerita.
Saya nggak tahu dia mau ngomong apa. Soalnya, yah, sejak SMP kan saya udah enggak tahu apa-apa lagi soal si Bi. Saya mengangguk. Kemudian, setengah berbisik sambil menatapku iba, cewek itu melanjutkan. "Tadi pas di kelas, gue denger Batu (nama samaran) mintain PJ (Pajak Jadian) ke Bi. Pas gue tanya si Batu, 'pj sama siapa?' si Batu jawab kalau Bi habis jadian sama kakak kelas."
Saya berusaha keras untuk tampak biasa aja.
Tapi rasanya, seperti ada sesuatu yang retak di hati saya. Waktu itu saya nggak mau ambil pusing. Hak-hak dia kan mau pacaran sama siapa aja. Lagian, kan, saya masih kelas satu SMP waktu itu. Harusnya saya enggak sebegini addicted sama si Bi. Tapi kan, tetep aja, saya nggak bisa ngeabaiin hati saya yang mulai pecah.
Saya nangis. Soalnya saya nggak tahu harus buat apa.
Jadi saat itulah, saya merasakan untuk pertama kali, patah hati gara-gara seorang cowok di dunia nyata.
Dan percaya atau enggak, setelah dua tahun lebih, saya masih berharap pada cowok yang sama. Iya, berhubung saya masih satu sekolah sama si Bi, apalagi, kelasnya dia ada tepat di depan kelas saya. Saya makin nggak bisa ngehindarin tatapan matanya yang menusuk.
Dia udah ganti pacar kok. Berkali-kali malah. Yang sekarang, dia pacaran sama cewek yang pernah saya kenal, yang saya anggap teman. Sementara saya, masih dengan bodoh menunggunya. Yang sepertinya enggak bakal pernah membuka hati pada saya.
Untuk, Patah Hati pertama saya.
Saya harap kamu bahagia.
Dan sadar kalau saya di sini selalu berharap.
(P.s : beberapa adegan ada yang saya dramatisasi karena saya lupa bagaimana kejadiannya.)
Rabu, 01 Maret 2017
Jingga (Broken Love Song)
Broken Love Song
"Irwojil su eopsneun. Seulpeun neoui story.
Gakkawojilsurok deo apajil teni.
(Ini adalah kisah sedihku tentang cinta yang tak terpenuhi.
Semakin mendekat, semakin kuat rasa sakit yang kudapat.)"
- EXO - Moonlight -
*
Rasanya selama empat belas tahun hidupku--November nanti akan menjadi lima belas, sebenarnya,-- aku belum pernah merasakan hal aneh seperti ini. Tiap aku menatap tepat ke arah irisnya yang hitam legam, aku merasa ada getaran yang enggak bisa kudefinisikan.
Jantungku jadi berpacu di atas normal, dan berada di dekatnya terus-menerus serasa membuatku mau mati. Pipiku rasanya benar-benar hangat dan panas dan memerah dan aku yakin kalau aku tidak segera membuang muka, dia akan tahu tentang perubahan air mukaku.
Rasanya benar-benar enggak nyaman, serius.
Contohnya seperti sekarang.
Syukur saja cowok itu masih sibuk dengan imajinasinya soal lagu yang akan dia ciptakan--dia punya obsesi berlebihan soal musik--. Jadi aku tidak perlu susah-susah buat menyembunyikan pipiku yang sudah seperti kepiting rebus, soalnya dia juga enggak bakal melirikku.
Cowok itu benar-benar mirip dengan Chanyeol, si member EXO yang kebetulan ulang tahunnya sama denganku. Mereka sama-sama punya kulit yang putih, rambut hitam legam, dan yang istimewa, cowok itu juga punya lesung pipi. Astaga, aku selalu suka cowok dengan lesung pipi--cowok-cowok seperti Harry Styles, Luke Hemmings, dan Park Chanyeol--. Dan jangan lupa, dia juga punya senyum lebar khas Chanyeol si gigi onta.
Namanya Ezar, dan dia kebagian duduk denganku selama semester ini. Beda dari kebanyakan cowok lain yang irit bicara, Ezar ini termasuk cowok banyak omong--persis seperti Chanyeol. Sejak hari pertama aku duduk di kelas sepuluh, Ezar jadi cowok pertama yang mengajakku bicara, dan dia nggak pernah berhenti merecokiku dengan tangga nadanya yang bahkan enggak aku mengerti sedikitpun.
"...bokap gue bilang, sekali-kali gue harus nyoba bikin lagu soal patah hati. Katanya, dia bosen sama lagu gue yang soal jatuh cinta mulu. Tapi gue bingung, Jingga, gue nggak ada ide. Lo punya nggak?"
Untuk pertama kalinya sejak lima belas menit yang lalu, cowok itu menoleh ke arahku. Sudah kuberitahu bagaimana rasanya, seperti ada yang menyengat tubuhku dengan tiba-tiba. Aku terlonjak, merasakan rasa hangat yang menjalar ke setiap otot-otot wajahku.
"Jingga, pipi lo mer--"
"Aku enggak apa-apa," selaku, dengan menambahkan seulas senyum agar terlihat meyakinkan. Meski jika dia sedikit belajar ilmu psikologi, dia pasti akan tahu kalau aku berbohong--siapa yang percaya dengan orang yang bola matanya terus melirik kesana-kemari?
Tapi untungnya, Ezar terlihat enggak mempedulikan soal gerakan mataku.
"Jadi, gimana? Lo ada ide nggak?"
Ezar menatapku dengan wajahnya yang seperti biasa-- imut dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas.
Aku menggeleng, begitu ingat kalau aku belum pernah merasa sakit hati sebelumnya. Kecuali kalau sakit dan sedih gara-gara kucingku hilang itu bisa dibilang sakit hati, mungkin pernah.
Papa enggak pernah mengizinkanku pacaran dengan cowok manapun, dan aku dengan senang hati menurutinya. Menurutku dulu, pacaran itu cuma membuang-buang waktu dan membuat nilai rapot turun.
"Enggak ada, Zar, maaf ya. Kalau ada inspirasi nanti aku kasih tau kamu," kataku, sambil menepuk bahu Ezar yang lebar dan kokoh.
Ezar tersenyum--lagi, Ya Tuhan! Cowok ini makan apa, sih? Kenapa senyumnya bisa begitu manis?--diiringi anggukan kecilnya.
*
Dasar teman nggak tahu diri!
Ya ampun, gara-gara Ezar si nakal-tapi-untungnya-ganteng, aku jadi kena semprot Bu Juli dan disuruh mengepel kelas. Padahal, yang buang-buang air kan Ezar!
Tunggu aja, kalau aku ketemu cowok itu, aku pastikan aku akan menghabisinya dan menendang tulang keringnya dan memukul semua tubuhnya, pokoknya, aku harus balas dendam!
Enak saja dia santai sambil makan di kantin sementara aku harus membersihkan kelas sendiri. Tapi yang pertama, aku butuh jus jeruk! Siang ini panas banget, demi apa pun.
Jadi, dengan berbekal hati yang dongkol dan tenggorokan yang tersumbat oleh entah apa dan peluh yang menetes sebiji jagung, (Aku enggak tahu apakah memang sebesar itu--kamu paham? Cuma hiperbola.) aku mendekati Mas Kantin yang punya wajah tampan--mirip Mika, si vokalis The Overtunes yang keren--dan memesan satu gelas jus jeruk dan seporsi bakso.
"Jingga!" teriak seseorang, yang membuat mataku segera berkelana ke sekeliling kantin untuk menemukan orang yang memanggilku tadi.
Siapa, ya? Kedengarannya sih familier.
"Gue di belakang lo, duh." Seseorang itu--yang kemudian kuketahui kalau dia adalah Azalea, salah satu teman cewekku--menepuk pundakku, membuatku refleks berbalik seratus delapan puluh derajat dan mendelik ke arahnya.
Aku segera melakukan siklus tarik napas-embuskan selama hampir delapan kali, yang membuat Alea mendesis. Tanpa mempedulikan tatapannya yang setajam pedang, aku berkata, "Ada apa, Alea?"
Cewek itu menyibakkan rambut hitamnya yang tebal dan lurus--membuatku berdecih--kemudian mengisyaratkan mata seperti menyuruhku mengikuti langkahnya, yang enggak bisa kulakukan karena aku harus menunggu baksoku. Jadi aku cuma memandanginya pergi dan menandai di mana dia duduk.
Dari wajahnya yang bete dan alis tebalnya yang mengerut, aku yakin Alea mau mengatakan sesuatu yang penting. Jadi, begitu Mas Kantin menyerahkan baksoku--dan jus jerukku--aku segera berjalan ke meja tempat Alea duduk--yang sialnya adalah meja paling pojok. Aku enggak pernah suka duduk di meja itu, karena, setiap aku duduk di sana, rasanya aku jadi orang paling kesepian di dunia.
"Jadi?" pancingku, begitu aku menaruh jus jerukku di meja. Alea, yang sepertinya sudah memesan makanan dari tadi, cuma menatapku dalam dan kemudian, dengan sangat mengejutkan, dia menunduk.
Bum!
Selama aku berteman dengan Alea--yang sudah hampir satu setengah tahun karena aku mengenalnya waktu kelas sembilan--jarang sekali dia menampakkan wajah melas seperti itu, kecuali kalau ada sesuatu yang benar-benar mengecewakan. Misalnya waktu dia cuma dapat sembilan puluh satu di pelajaran matematika.
Dan sekarang, apa yang mengecewakan?
"Jingga, jawab jujur, ya," katanya, dengan wajah melas yang biasanya di-close up supaya dapat rating tinggi di sinetron.
Aku berdehem, kemudian mengangguk pelan. "Soal Chanye--maksud gue, kembarannya Chanyeol, Ezar, lo suka sama dia kan?"
*
"A place that cannot be touched
A place that cannot be held
The reflection on the surface is not her
It's my sad story that cannot be fulfilled
The closer I get the stronger the pain will get
I see you still like a picture
At the end of the gaze,"
- EXO - Moonlight -
*
Sejak sekitar lima menit yang lalu, tepatnya sejak Alea menanyakan hal itu, aku belum bergerak sedikitpun--kecuali tentu saja untuk bernapas dan berkedip. Bahkan rasanya, seandainya di sini ada cermin, aku yakin seratus persen kalau ekspresiku saat ini enggak bisa dikatakan keren. Maksudku, apanya yang keren dengan gaya mangap dan melas dan mata membulat dan tubuh kaku? Astaga, sepertinya aku butuh kekuatan teleportasinya Kai, aku harus pergi dari sini sebelum segalanya semakin parah!
Tapi, alih-alih melakukan perencanaan kabur yang keren, aku malah berkedip dengan enggak teratur dan akhirnya berkata, "Enggak--"--tahu. Aku enggak tahu.
"Jujur aja, Jingga, gue bener-bener butuh jawaban lo," katanya lagi, kali ini sambil menambahkan puppy eyes yang membuatku iri, karena, aku sudah berkali-kali mencoba membuatnya tapi tetap enggak bisa seimut Alea.
Aku bergeming. Apa aku suka Ezar?
Dari segala perlakuannya, aku tahu ada sedikit yang berbeda dalam diriku. Tapi rasanya hidupku selama ini normal-normal saja--kecuali soal detak jantung dan pipi merah--. Apa lagi, Ezar itu cowok asik, dia teman yang baik. Maksudku, apakah segala yang kualami belakangan ini bisa jadi indikasi kalau aku menyukai Ezar?
Astaga. Aku bingung.
Tapi bel masuk sebentar lagi berbunyi dan aku enggak mungkin cuma berdiam diri di sini dan memikirkan semua itu. Jadi, sambil menarik napas dalam, aku berkata, "Enggak. Aku enggak suka sama Ezar."
Dan entah kenapa, aku menemukan seutas senyum terbit di bibir mungil Alea.
"By the way, kok kamu bisa berpikiran kayak gitu?" tanyaku, ketika Alea sudah beranjak dan bersiap pergi--Astaga, bahkan aku belum mencicipi baksoku!
Sepertinya Alea enggak berniat untuk menjawab, dan aku baru menyadari kalau ada sosok lain berdiri di dekat kami. Siluet cowok jangkung dengan rambut hitam pendek, dengan posisi tubuh menghalangi cahaya--tapi aku bisa melihat jelas senyumnya, lebar dengan lesung pipi yang tercetak jelas.
Rasanya aku baru mau terbang tinggi ketika kemudian cowok itu berkata, "Alea, ke kelas bareng, yuk! Jingga, gue sama Alea ke kelas duluan, ya!"
Menghancurkan segalanya. Menghantamku dengan palu tak kasat mata. Karena cowok itu adalah si kembaran Park Chanyeol, Ezar.
*
Bulbit gadeukhan georigeori honja georeosseo.
Dadeul haengbokhae boyeo.
Neoneon eonjena gonggicheoreom esseojul georan chakgage, meongcheongi bonae.
Naega neomu mianhae.
(I walked alone on a street filled with lights, everyone looks happy.
I used to think you would always be there like air,
But I foolishly let you go.
I'm so sorry.)
- EXO - First Snow -
*
"Bentar, Zar."
Alea menarik tangan Ezar, membuat cowok itu mengambil kembali kakinya yang siap melangkah.
Sampai sekarang, aku masih enggak paham apa yang terjadi baru saja. Maksudku, kenapa aku bisa merasa ada sesuatu yang menghimpit dadaku dan mengempaskannya begitu saja. Tanpa sisa. Benar-benar sesak.
Aku tahu aku enggak boleh begini. Itu semua hak Ezar kalau dia mau mengajak Alea kembali ke kelas, aku harusnya enggak ikut campur.
Astaga, kenapa pula aku ini?
"Mumpung lo ada di sini, gue mau jawab--kebetulan di sini ada Jingga. Dia sahabat lo, dia juga harus tau."
Aku mengangkat alis, aku harus tahu soal apa?
Ada urusan apa antara Ezar dan Alea sampai aku harus tahu soal hal ini? Maksudku, apa Ezar juga meminta pendapat Alea soal lagu buatannya?
Ah, soal lagu itu, aku belum memikirkannya sama sekali. Untuk menemukan lirik yang pas, rasanya benar-benar sulit, enggak seperti waktu membuat puisi--yang sudah kulakukan berkali-kali.
Astaga.
Benar, itu ide brilian. Aku enggak usah susah payah memikirkan soal nada yang pas. Aku akan membuatkan puisi soal patah hati dan menyerahkannya ke Ezar, biar dia sendiri yang mengubahnya ke--
"Zar, gue--" Aku menoleh, membiarkan kata-kata Alea menginterupsi pikiran geniusku. Lagi pula, rasanya seluruh sel dalam tubuhku sepakat ingin tahu soal permasalahan ini.
"Gue mau jadi pacar lo."
*
Retak. Hancur. Pecah.
Menghantamku layaknya rajah.
Sakit. Sesak. Perih.
Tandas tanpa sisa letih.
Bergeming aku dalam senyap.
Kuncup asa layu sudah.
Biarlah hancur hati merayap.
Tinggallah bisu laksana debu.
*
Senyap.
Sepi.
Aku masih berdiri di sini, terpaku memandang kedua insan yang saling tatap penuh rasa. Aku masih membeku. Dapatkah aku memutar balik waktu?
Sesak.
Sakit.
Rasanya ada sesuatu yang menghimpit dadaku, mengacak-acak perutku, dan segala rasa yang cukup untuk membekukanku. Thunder. Menjauhkanku dari dunia luar. Meninggalkanku dengan senyap-senyap perkataan yang membakar hati.
Aku tahu aku berlebihan. Tapi rasanya memang seperti itu.
Seperti separuh hidupku diambil paksa.
Aku sudah cukup nyaman dengan segalanya.
Mulai dari detik ini, aku tahu segalanya enggak akan seperti dulu lagi. Aku enggak akan bisa bercanda dengan Ezar seperti dulu lagi--dia sudah punya pacar.
Astaga, kenapa aku begitu sinetron?
Ini semua hak Ezar, terserah dia kalau dia mau pacaran dengan Alea atau entah cewek mana pun. Sekali lagi, aku enggak berhak buat ikut campur.
Mungkin benar kata Alea, mungkin aku memang menyukai Ezar.
Aku bahkan enggak tahu sejak kapan pipiku basah, atau sejak kapan pandanganku memburam. Segalanya begitu baru buatku, aku belum pernah merasa seperti ini--hancur dan seolah semangat hidupku luntur. Seharusnya aku bilang kalau aku menyukai Ezar sejak awal, Alea mungkin enggak bakal mau jadi pacarnya.
Astaga, kenapa aku begitu egois?
Enggak, Jingga, kamu enggak boleh seperti ini. Hidup kamu terlalu istimewa jadi jangan kamu gunakan untuk menangisi cowok seperti Ezar. Segalanya pasti akan ada waktunya.
Benar, mungkin aku bisa menjadikan ini inspirasi untuk lagu baru Ezar.
Jadi, karena Ezar dan Alea juga enggak melihatku sejak tadi--mungkin mereka sedang merasa melayang dalam hati atau entah apa--, aku segera mengusap pipiku dan mataku dan rambutku, dan akhirnya, menarik napas dalam sebelum kemudian memaksakan sebuah senyum simpul.
"Selamat ya, kalian berdua."
Dan aku berlari.
Meninggalkan mereka.
Dan baksoku.
Begitu saja.
*
I wish that I could wake up with amnesia
And forget about these stupid little things
Like the way it felt to fall asleep next to you
And the memories I'd never can escape
Cause I'm not fine at all.
5 Seconds of Summer - Amnesia
Perjuangan Berat Menulis Novel
Halo haaa!
Ya ampun, udah setahun ya aku enggak nulis di blog ini (iya lah setahun, kan dari 2016 ke 2017.) hehe.
Apa dah bacot banget.
Iya atuh, maapkeun. Jadi ya, aku kembali lagi buat ngisi-ngisi. Jujur, ya aku tuh asli nggak tau mau ngisi blog ini pakai apa. Bingung mampus. Jadi, yaudah deh, mendingan di sini aku isi apa aja.
Soooo... Sebelum aku bahas soal topik utama. Aku saranin kalian mampir ke wattpadku yak, biar kalian tau tulisan aku tuh kayak gimana sih. Kali aja kalian suka sama cerita-cerita yang aku upload hehe. Yuk, mampir ke sini
Jadi, sekarang kita udah sampai di bahasan utama. Soal, gimana sih perjuangan berat menulis novel itu?
Oke. Aku tau aku emang bukan penulis beken, cuma penulis wattpad yang ceritanya belum rampung. Tapi aku juga lagi progress bikin novel, kan sama aja ya kan. Yah, jadi ini tuh cocoknya buat yang pemula. Yang senior mah aku enggak tau kayak gimana.
1) Ketumpahan Ide
Di awal menulis, aku dapet ide banyaaaak banget. Bertumpuk. Ide si ini akhirnya sama si anu. Si anu kecelakaan terus amnesia. Si ini nikah lagi. Iya, idenya dateng mulu kayak perasaan cintaku padamu. Makanya, aku jadi semangat banget nulisnya. Sampai sehari aja bisa hasilin ber-bab-bab.
2) Semangat Mulai Luntur
Kalau udah lewat berminggu-minggu, rasanya tuh udah males banget gitu mau ngelanjutin cerita. Tapi akhirnya tetep kupaksain. Yah, kalau ceritanya jadi jelek, kan, masih bisa diedit.
3) What The Actual Fuck is Write's Block
Buntu. Mampus.
Ini bagian yang paling enggak aku suka. Writer's block. Yah, kayak yang poin dua tadi. Cuma lebih parah. Kayak, yang males buangeet mau lihat naskahnya aja. Terus pas mau ngelanjutin, pyar, idenya ambyar hilang entah kemana.
Kalau gini, sih, aku saranin kalian dari awal bikin outline dari awal. Jadi, bakal ada tuntunannya, enggak separah ini entar. Tapi kalau masih kena writer's block dan kalian masih enggak tahu harus ngapain. Mungkin otak kalian yang capek. Mungkin dia butuh istirahat.
Jadi, coba dengerin lagu bentar. Jalan-jalan bentar. Kali aja kalian ketambahan ide.
4) Ceritaku Bisa Diterbitin Nggak Ya?
Meskipun waktu itu ceritaku belum rampung, di bayanganku itu udah ada gambaran, gimana kalau misalkan novelku itu diterbitin. Dijadiin buku. Dibaca sama seluruh Indonesia. Dan itu membuat aku jadi makin semangat nulis novelnya. Makin pengen cepet ngerampungin.
5) Aku Ragu
Ini baru aku alami beberapa hari yang lalu. Aku mulai merasa takut kalau aku cuma bakal dapat penolakan. Aku takut kalau misalkan yang kudapatkan itu cuma bakal berujung kesia-siaan.
Tapi setelah aku cerita sama temenku, katanya, aku enggak boleh gitu. Aku harus optimis. Tuhan, kan enggak pernah tidur.
Dan sekarang aku lagi berjuang melawan kepesimisan dalam diriku sendiri. Karena aku sadar, benar kata mereka. Tuhan itu enggak pernah tidur. Dan hasil itu juga enggak bakal menghianati perjuangannya.
Jadi, itu tadi ceritaku soal rasanya bikin novel. Mana cerita kalian?
(p.s : maaf ya kalau post-an ku kali ini abal-abal banget. Aku lagi ngantuk parah.)