Rabu, 01 Maret 2017

Jingga (Broken Love Song)

Broken Love Song


"Irwojil su eopsneun. Seulpeun neoui story.
Gakkawojilsurok deo apajil teni.
(Ini adalah kisah sedihku tentang cinta yang tak terpenuhi.
Semakin mendekat, semakin kuat rasa sakit yang kudapat.)"

- EXO - Moonlight -

*

Rasanya selama empat belas tahun hidupku--November nanti akan menjadi lima belas, sebenarnya,-- aku belum pernah merasakan hal aneh seperti ini. Tiap aku menatap tepat ke arah irisnya yang hitam legam, aku merasa ada getaran yang enggak bisa kudefinisikan.

Jantungku jadi berpacu di atas normal, dan berada di dekatnya terus-menerus serasa membuatku mau mati. Pipiku rasanya benar-benar hangat dan panas dan memerah dan aku yakin kalau aku tidak segera membuang muka, dia akan tahu tentang perubahan air mukaku.

Rasanya benar-benar enggak nyaman, serius.

Contohnya seperti sekarang.

Syukur saja cowok itu masih sibuk dengan imajinasinya soal lagu yang akan dia ciptakan--dia punya obsesi berlebihan soal musik--. Jadi aku tidak perlu susah-susah buat menyembunyikan pipiku yang sudah seperti kepiting rebus, soalnya dia juga enggak bakal melirikku.

Cowok itu benar-benar mirip dengan Chanyeol, si member EXO yang kebetulan ulang tahunnya sama denganku. Mereka sama-sama punya kulit yang putih, rambut hitam legam, dan yang istimewa, cowok itu juga punya lesung pipi. Astaga, aku selalu suka cowok dengan lesung pipi--cowok-cowok seperti Harry Styles, Luke Hemmings, dan Park Chanyeol--. Dan jangan lupa, dia juga punya senyum lebar khas Chanyeol si gigi onta.

Namanya Ezar, dan dia kebagian duduk denganku selama semester ini. Beda dari kebanyakan cowok lain yang irit bicara, Ezar ini termasuk cowok banyak omong--persis seperti Chanyeol. Sejak hari pertama aku duduk di kelas sepuluh, Ezar jadi cowok pertama yang mengajakku bicara, dan dia nggak pernah berhenti merecokiku dengan tangga nadanya yang bahkan enggak aku mengerti sedikitpun.

"...bokap gue bilang, sekali-kali gue harus nyoba bikin lagu soal patah hati. Katanya, dia bosen sama lagu gue yang soal jatuh cinta mulu. Tapi gue bingung, Jingga, gue nggak ada ide. Lo punya nggak?"

Untuk pertama kalinya sejak lima belas menit yang lalu, cowok itu menoleh ke arahku. Sudah kuberitahu bagaimana rasanya, seperti ada yang menyengat tubuhku dengan tiba-tiba. Aku terlonjak, merasakan rasa hangat yang menjalar ke setiap otot-otot wajahku.

"Jingga, pipi lo mer--"

"Aku enggak apa-apa," selaku, dengan menambahkan seulas senyum agar terlihat meyakinkan. Meski jika dia sedikit belajar ilmu psikologi, dia pasti akan tahu kalau aku berbohong--siapa yang percaya dengan orang yang bola matanya terus melirik kesana-kemari?

Tapi untungnya, Ezar terlihat enggak mempedulikan soal gerakan mataku.

"Jadi, gimana? Lo ada ide nggak?"

Ezar menatapku dengan wajahnya yang seperti biasa-- imut dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, membuat lesung pipinya terlihat dengan jelas.

Aku menggeleng, begitu ingat kalau aku belum pernah merasa sakit hati sebelumnya. Kecuali kalau sakit dan sedih gara-gara kucingku hilang itu bisa dibilang sakit hati, mungkin pernah.

Papa enggak pernah mengizinkanku pacaran dengan cowok manapun, dan aku dengan senang hati menurutinya. Menurutku dulu, pacaran itu cuma membuang-buang waktu dan membuat nilai rapot turun.

"Enggak ada, Zar, maaf ya. Kalau ada inspirasi nanti aku kasih tau kamu," kataku, sambil menepuk bahu Ezar yang lebar dan kokoh.

Ezar tersenyum--lagi, Ya Tuhan! Cowok ini makan apa, sih? Kenapa senyumnya bisa begitu manis?--diiringi anggukan kecilnya.

*

Dasar teman nggak tahu diri!

Ya ampun, gara-gara Ezar si nakal-tapi-untungnya-ganteng, aku jadi kena semprot Bu Juli dan disuruh mengepel kelas. Padahal, yang buang-buang air kan Ezar!

Tunggu aja, kalau aku ketemu cowok itu, aku pastikan aku akan menghabisinya dan menendang tulang keringnya dan memukul semua tubuhnya, pokoknya, aku harus balas dendam!

Enak saja dia santai sambil makan di kantin sementara aku harus membersihkan kelas sendiri. Tapi yang pertama, aku butuh jus jeruk! Siang ini panas banget, demi apa pun.

Jadi, dengan berbekal hati yang dongkol dan tenggorokan yang tersumbat oleh entah apa dan peluh yang menetes sebiji jagung, (Aku enggak tahu apakah memang sebesar itu--kamu paham? Cuma hiperbola.) aku mendekati Mas Kantin yang punya wajah tampan--mirip Mika, si vokalis The Overtunes yang keren--dan memesan satu gelas jus jeruk dan seporsi bakso.

"Jingga!" teriak seseorang, yang membuat mataku segera berkelana ke sekeliling kantin untuk menemukan orang yang memanggilku tadi.

Siapa, ya? Kedengarannya sih familier.

"Gue di belakang lo, duh." Seseorang itu--yang kemudian kuketahui kalau dia adalah Azalea, salah satu teman cewekku--menepuk pundakku, membuatku refleks berbalik seratus delapan puluh derajat dan mendelik ke arahnya.

Aku segera melakukan siklus tarik napas-embuskan selama hampir delapan kali, yang membuat Alea mendesis. Tanpa mempedulikan tatapannya yang setajam pedang, aku berkata, "Ada apa, Alea?"

Cewek itu menyibakkan rambut hitamnya yang tebal dan lurus--membuatku berdecih--kemudian mengisyaratkan mata seperti menyuruhku mengikuti langkahnya, yang enggak bisa kulakukan karena aku harus menunggu baksoku. Jadi aku cuma memandanginya pergi dan menandai di mana dia duduk.

Dari wajahnya yang bete dan alis tebalnya yang mengerut, aku yakin Alea mau mengatakan sesuatu yang penting. Jadi, begitu Mas Kantin menyerahkan baksoku--dan jus jerukku--aku segera berjalan ke meja tempat Alea duduk--yang sialnya adalah meja paling pojok. Aku enggak pernah suka duduk di meja itu, karena, setiap aku duduk di sana, rasanya aku jadi orang paling kesepian di dunia.

"Jadi?" pancingku, begitu aku menaruh jus jerukku di meja. Alea, yang sepertinya sudah memesan makanan dari tadi, cuma menatapku dalam dan kemudian, dengan sangat mengejutkan, dia menunduk.

Bum!

Selama aku berteman dengan Alea--yang sudah hampir satu setengah tahun karena aku mengenalnya waktu kelas sembilan--jarang sekali dia menampakkan wajah melas seperti itu, kecuali kalau ada sesuatu yang benar-benar mengecewakan. Misalnya waktu dia cuma dapat sembilan puluh satu di pelajaran matematika.

Dan sekarang, apa yang mengecewakan?

"Jingga, jawab jujur, ya," katanya, dengan wajah melas yang biasanya di-close up supaya dapat rating tinggi di sinetron.

Aku berdehem, kemudian mengangguk pelan. "Soal Chanye--maksud gue, kembarannya Chanyeol, Ezar, lo suka sama dia kan?"

*

"A place that cannot be touched
A place that cannot be held
The reflection on the surface is not her
It's my sad story that cannot be fulfilled
The closer I get the stronger the pain will get
I see you still like a picture
At the end of the gaze,"
- EXO - Moonlight -

*

Sejak sekitar lima menit yang lalu, tepatnya sejak Alea menanyakan hal itu, aku belum bergerak sedikitpun--kecuali tentu saja untuk bernapas dan berkedip. Bahkan rasanya, seandainya di sini ada cermin, aku yakin seratus persen kalau ekspresiku saat ini enggak bisa dikatakan keren. Maksudku, apanya yang keren dengan gaya mangap dan melas dan mata membulat dan tubuh kaku? Astaga, sepertinya aku butuh kekuatan teleportasinya Kai, aku harus pergi dari sini sebelum segalanya semakin parah!

Tapi, alih-alih melakukan perencanaan kabur yang keren, aku malah berkedip dengan enggak teratur dan akhirnya berkata, "Enggak--"--tahu. Aku enggak tahu.

"Jujur aja, Jingga, gue bener-bener butuh jawaban lo," katanya lagi, kali ini sambil menambahkan puppy eyes yang membuatku iri, karena, aku sudah berkali-kali mencoba membuatnya tapi tetap enggak bisa seimut Alea.

Aku bergeming. Apa aku suka Ezar?

Dari segala perlakuannya, aku tahu ada sedikit yang berbeda dalam diriku. Tapi rasanya hidupku selama ini normal-normal saja--kecuali soal detak jantung dan pipi merah--. Apa lagi, Ezar itu cowok asik, dia teman yang baik. Maksudku, apakah segala yang kualami belakangan ini bisa jadi indikasi kalau aku menyukai Ezar?

Astaga. Aku bingung.

Tapi bel masuk sebentar lagi berbunyi dan aku enggak mungkin cuma berdiam diri di sini dan memikirkan semua itu. Jadi, sambil menarik napas dalam, aku berkata, "Enggak. Aku enggak suka sama Ezar."

Dan entah kenapa, aku menemukan seutas senyum terbit di bibir mungil Alea.

"By the way, kok kamu bisa berpikiran kayak gitu?" tanyaku, ketika Alea sudah beranjak dan bersiap pergi--Astaga, bahkan aku belum mencicipi baksoku!

Sepertinya Alea enggak berniat untuk menjawab, dan aku baru menyadari kalau ada sosok lain berdiri di dekat kami. Siluet cowok jangkung dengan rambut hitam pendek, dengan posisi tubuh menghalangi cahaya--tapi aku bisa melihat jelas senyumnya, lebar dengan lesung pipi yang tercetak jelas.

Rasanya aku baru mau terbang tinggi ketika kemudian cowok itu berkata, "Alea, ke kelas bareng, yuk! Jingga, gue sama Alea ke kelas duluan, ya!"

Menghancurkan segalanya. Menghantamku dengan palu tak kasat mata. Karena cowok itu adalah si kembaran Park Chanyeol, Ezar.

*

Bulbit gadeukhan georigeori honja georeosseo.
Dadeul haengbokhae boyeo.
Neoneon eonjena gonggicheoreom esseojul georan chakgage, meongcheongi bonae.
Naega neomu mianhae.
(I walked alone on a street filled with lights, everyone looks happy.
I used to think you would always be there like air,
But I foolishly let you go.
I'm so sorry.)

- EXO - First Snow -

*

"Bentar, Zar."

Alea menarik tangan Ezar, membuat cowok itu mengambil kembali kakinya yang siap melangkah.

Sampai sekarang, aku masih enggak paham apa yang terjadi baru saja. Maksudku, kenapa aku bisa merasa ada sesuatu yang menghimpit dadaku dan mengempaskannya begitu saja. Tanpa sisa. Benar-benar sesak.

Aku tahu aku enggak boleh begini. Itu semua hak Ezar kalau dia mau mengajak Alea kembali ke kelas, aku harusnya enggak ikut campur.

Astaga, kenapa pula aku ini?

"Mumpung lo ada di sini, gue mau jawab--kebetulan di sini ada Jingga. Dia sahabat lo, dia juga harus tau."

Aku mengangkat alis, aku harus tahu soal apa?

Ada urusan apa antara Ezar dan Alea sampai aku harus tahu soal hal ini? Maksudku, apa Ezar juga meminta pendapat Alea soal lagu buatannya?

Ah, soal lagu itu, aku belum memikirkannya sama sekali. Untuk menemukan lirik yang pas, rasanya benar-benar sulit, enggak seperti waktu membuat puisi--yang sudah kulakukan berkali-kali.

Astaga.

Benar, itu ide brilian. Aku enggak usah susah payah memikirkan soal nada yang pas. Aku akan membuatkan puisi soal patah hati dan menyerahkannya ke Ezar, biar dia sendiri yang mengubahnya ke--

"Zar, gue--" Aku menoleh, membiarkan kata-kata Alea menginterupsi pikiran geniusku. Lagi pula, rasanya seluruh sel dalam tubuhku sepakat ingin tahu soal permasalahan ini.

"Gue mau jadi pacar lo."

*

Retak. Hancur. Pecah.
Menghantamku layaknya rajah.
Sakit. Sesak. Perih.
Tandas tanpa sisa letih.


Bergeming aku dalam senyap.
Kuncup asa layu sudah.
Biarlah hancur hati merayap.
Tinggallah bisu laksana debu.


*


Senyap.


Sepi.


Aku masih berdiri di sini, terpaku memandang kedua insan yang saling tatap penuh rasa. Aku masih membeku. Dapatkah aku memutar balik waktu?


Sesak.


Sakit.


Rasanya ada sesuatu yang menghimpit dadaku, mengacak-acak perutku, dan segala rasa yang cukup untuk membekukanku. Thunder. Menjauhkanku dari dunia luar. Meninggalkanku dengan senyap-senyap perkataan yang membakar hati.


Aku tahu aku berlebihan. Tapi rasanya memang seperti itu.


Seperti separuh hidupku diambil paksa.


Aku sudah cukup nyaman dengan segalanya.


Mulai dari detik ini, aku tahu segalanya enggak akan seperti dulu lagi. Aku enggak akan bisa bercanda dengan Ezar seperti dulu lagi--dia sudah punya pacar.

Astaga, kenapa aku begitu sinetron?

Ini semua hak Ezar, terserah dia kalau dia mau pacaran dengan Alea atau entah cewek mana pun. Sekali lagi, aku enggak berhak buat ikut campur.

Mungkin benar kata Alea, mungkin aku memang menyukai Ezar.

Aku bahkan enggak tahu sejak kapan pipiku basah, atau sejak kapan pandanganku memburam. Segalanya begitu baru buatku, aku belum pernah merasa seperti ini--hancur dan seolah semangat hidupku luntur. Seharusnya aku bilang kalau aku menyukai Ezar sejak awal, Alea mungkin enggak bakal mau jadi pacarnya.

Astaga, kenapa aku begitu egois?

Enggak, Jingga, kamu enggak boleh seperti ini. Hidup kamu terlalu istimewa jadi jangan kamu gunakan untuk menangisi cowok seperti Ezar. Segalanya pasti akan ada waktunya.

Benar, mungkin aku bisa menjadikan ini inspirasi untuk lagu baru Ezar.

Jadi, karena Ezar dan Alea juga enggak melihatku sejak tadi--mungkin mereka sedang merasa melayang dalam hati atau entah apa--, aku segera mengusap pipiku dan mataku dan rambutku, dan akhirnya, menarik napas dalam sebelum kemudian memaksakan sebuah senyum simpul.

"Selamat ya, kalian berdua."

Dan aku berlari.

Meninggalkan mereka.

Dan baksoku.

Begitu saja.

*

I wish that I could wake up with amnesia
And forget about these stupid little things
Like the way it felt to fall asleep next to you
And the memories I'd never can escape
Cause I'm not fine at all.


5 Seconds of Summer - Amnesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar