Minggu, 05 Maret 2017

Saat Ide Mengajak Perang

Perang aja yuk!

Tunggu-tunggu, sebelum kalian berpikiran negatif soal post-an saya. Tarik napas dulu, yang dalam. Tahan tiga puluh--jangan deh, kelamaan, tahan sepuluh detik aja gitu dulu. Habis itu embusin. Terus pikir baik-baik ; saya nggak ngajak ribut kok.

Orang saya mau perang sama ide. Kok kalian yang ribet sih?

Iya-iya, saya tau sekarang saya malah nyari ribut beneran. Maafin tangan saya yang agak bandel ini ya.

Jadi, sebelum kalian ngoceh panjang kali lebar kali tinggi (dan jadilah rumus volume balok!) soal ide yang nggak bersalah, dan saya yang harus ikut menciptakan perdamaian dunia (seperti di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat). Saya mau tegasin, jadi saya mau bikin tag baru yaitu : tips menulis.

Iya, tau kok saya masih ecek-ecek kayak kecebong dan belum bisa dipercaya. Tapi apa salahnya berbagi, sih? Ya nggak? Hehe. Lagian, daripada blog ini saya isi sesuatu yang enggak bermanfaat dan ujungnya ghibah, kan lebih baik saya berbagi ilmu.

Selamat Pagi wahai pembaca yang budiman.

Budiman aja, kok. Nggak ada Tara-nya di depan. Soalnya kan, nggak mungkin artis kayak dia ngunjungin blog rakjel kayak gini.

Oke. Saya mulai ngelantur.

Jadi, seperti yang udah saya bilang di judul. Sekarang saya lagi ngerasain dimana ide ngirimin saya ajakan buat perang.

Seperti manusia yang punya dua sisi--buruk dan buruk banget, maksud saya, dan baik--, perang yang saya maksud juga ada dua makna. Seperti pepatah, 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jadi jomblo tersakit(i) dahulu, tertawa di atas penderitaan orang kemudian.' (ya ampun saya mabok lagi.), jadi, saya bakal utamakan tafsiran negatif dulu.

Perang dalam sisi negatif ya, gitu. Ya gitu.

Y a g i t u.

Oke serius. Maksud saya, perang dalam sisi negatif artinya, ya yang kayak ngajak tawur, yang bikin kesel. Dan sekarang, saya lagi ada di posisi ini. Soalnya, beberapa hari lalu, si ide ngirimin saya email, isinya gini : 'halo, moonlight. Perang yuk! Kalau lo nggak berani berarti lo cemen alias loser!' (kalian nggak mungkin percaya soal ini, kan?)

Kalian masih belum nangkap apa yang saya maksud? Ya udah, saya jelasin rinci.

Jadi, di tengah kesibukan saya menggarap novel pertama saya--yang punya nama Stitch & Pain--, dan mengumpulkan pasukan perang buat ngelawan tryout dan sebagainy. Si ide ini langsung main masuk ke otak saya, tanpa ketuk pintu dulu. Kan saya kesel.

Yah, gimana sih. Kan novel saya yang pertama belum selesai! Kenapa harus muncul ide yang nggak ada hubungannya sama sekali?!

Apa salah saya? A P A?

Tapi tenang, saya kan titisan superman. Jadi, saya udah nemuin solusi buat mengatasi masalah ini--buat kalian yang gatel pingin nulis cerita baru padahal cerita yang lama belum selesai. Solusinya adalah :

Tulis ide kalian di note.

Iya. Sesimpel itu. Kalian pasti udah nebak, kan? Tapi, serius deh, walaupun kelihatannya sepele, ini bermanfaat banget. Soalnya gini, kalau kita enggak segera nulisin ide itu, bisa aja kan ide kalian yang brilian dan indah itu kabur dan nyari orang lain buat dihinggapi? Jadi, kalian harus nangkep ide itu dulu, biar nggak keburu ditangkap sama penulis lain.

Tapi jangan langsung diuraiin jadi cerita baru!

Jadi, kalian tulis garis besarnya aja di note hp atau buku catetan kalian. Biar konsentrasi kalian buat nulis novel yang belum selesai itu nggak pecah. Biar kalian enggak lupa soal ide itu.

Kayak misalkan, pas lagi di kafe, kalian ketemu ada cewek yang lagi ngobrol sama baristanya. Terus, tiba-tiba ada ide yang hinggap di kepala kalian.

Gimana kalau misalkan cewek itu ternyata cewek yang ngejar-ngejar si barista di kampus? Dan ternyata si baristanya udah punya istri?

Waduh!

Nah, sekarang tahu kan pentingnya mencatat ide?

* t i p s m e n u l i s *

Perang versi kedua, adalah perang dalam konteks positif. Jadi, si ide ini, nggak kayak ide pertama yang nggak punya sopan santun, dia dateng pas kamu emang butuh banget. Jarang, sih, yang kayak gini. Soalnya, kan, ide itu datangnya nggak pasti ; kayak perasaanmu ke saya.

Tapi, yah, ide versi kedua juga ngajak perang. Tapi perang dalam versi kebaikan. Jadi dia kayak nyemangatin kamu dengan wajah paling cakep sambil bilang, "Ayo dong, Sayang, tuangin aku ke tulisan! Semangat!" *brb pasang wajah Taeyong Oppa *brb pingsan

Jadi, dia itu kayak nantang kamu buat bikin cerita soal dia. Nantang kamu buat nulis cerita baru. Yah, enggak jauh beda sama ide versi pertama, sih. Cuma yang versi kedua ini enggak terlalu bikin frustrasi.

Ya udah ya. Kayaknya ini udah panjang banget. Habis ini saya bakalan post tips menulis yang pernah saya upload di wattpad. Dengan beberapa perubahan, tentu saja. (silakan kunjungi akun wattpad saya di sini) pantau terus blog ini ya!

고맙습니다

사랑

Moonlight

Tidak ada komentar:

Posting Komentar