Senin, 27 Maret 2017

Pembawaan yang Klise

Di beberapa post yang lalu, saya udah janji mau ngasih tau contoh pembawaan yang klise. Atau, bisa dibilang, kesalahan yang paling sering dilakukan sewaktu membawakan sebuah cerita.

Saya tau cerita saya juga masih belum bisa dibilang wow. Tapi, enggak ada salahnya kalau saya mau berbagi, kan? Di sini kita belajar bareng-bareng. Saya ngasih tau kamu ilmu yang sudah saya ketahui, dan kamu ngoreksi saya kalau misalkan saya salah.

Clear.

Jadi, dari pada basa-basinya malah sepanjang kakinya Jaehyun, mendingan kita mulai aja ya.

Pembawaan yang klise, eum, saya sendiri juga belum begitu paham sama konsep ini. Kalau dibilang begini, takutnya malah begitu. Ya udah, saya jelasin aja menurut penafsiran saya sendiri. Kalau saya salah, kan, saya bisa berkilah kalau ini cuma opini, hehe.

Jadi, pembawaan yang klise itu apa aja sih?

1) Pembukaan yang kurang ngena.

Ini udah pernah saya bahas di bagian 'Cerita yang Klise Mampus' dan saya juga udah ngasih beberapa contohnya. Tapi kalau kalian lupa, ya udah, saya jelasin lagi.

Pembukaan yang kurang ngena itu, tipe-tipe awal cerita yang bikin pembaca rolled eyes sambil bilang dalam hati, "apa sih?"

Bukan jelek. Cuma ya, kurang dipoles aja. Jadinya pembaca banyak yang nggak betah dan langsung ninggalin cerita kamu. Unch, kesalahan ini, menurut saya, adalah kesalahan paling fatal--sefatal salah saat pemilihan judul. Karena, yah, bisa aja kan cerita kamu yang wah itu jadi sedikit banget peminatnya gara-gara pembukaanmu yang kurang ekstra itu?

Bahkan, di beberapa tips menulis, saya selalu menemukan kalimat--kalimat aslinya bukan gini, saya agak lupa. Tapi ya udah deh saya jelasin pakai kalimat saya sendiri--, "Paragraf Pertama adalah akar dari segala rasa suka."

Kalau paragraf pertama kamu bagus, kemungkinan pembaca nyelesaiin sampai akhir jadi makin besar. Tapi kalau paragraf pertama kamu biasa-biasa aja, ya, gitu deh akhirnya.

Butuh contoh paragraf pertama yang masuk kategori 'kurang ngena'? Ya udah, saya ambilin dari salah satu cerita 'aib' saya ya. (Tolong jangan ketawa sewaktu baca cuplikan ini.)

"Bangunlah, Sayang, ini hari pertamamu ke sekolah. Kau mau terlambat?" ucap seorang laki-laki berusia 17 tahun itu. Yeah, dia sedang membangunkan adiknya. Dia sangat memanjakan dan terlalu over-protective kepada adiknya. Terlebih, sekarang mereka hanya tinggal berdua. Orang tuanya, Trisha dan Yaser sedang berada di Bradford sekarang.

Zayn Malik, siapa yang tak mengenalnya? Pria jebolan X-Factor bersama grup band-nya, One Direction, ini sudah menjadi pria paling populer tahun ini. Zayn memiliki nama asli Zayn Jawadd Malik, namun dia lebih senang mengejanya dengan Zayn Javadd Malik. Ia memiliki seorang adik perempuan yang bernama Prihatini Calerrie Malik, atau yang akrab disapa Priha.

(ini bukan paragraf pertama lagi lol)

Unch. Sewaktu baca paragraf di atas, apa yang kalian rasain? Jijik? Prihatin? Mau muntah? Ya udah, nggak papa. Saya sendiri juga ilfeel kok. Di atas itu termasuk pembukaan yang kurang ngena karena, terlalu muter-muter. Dan yah, terlalu pasaran juga.

Kenapa enggak langsung ke intinya aja? Kenapa pakai nyeritain soal Zayn yang anu yang beginu? Kenapa enggak langsung ke konflik? Kenapa? K E N A P A?

(omong-omong, lihatlah, betapa alaynya saya sampai bikin nama saya sendiri buat jadi tokoh utamanya!)

Terus, pembukaan yang ngena itu yang kayak gimana?

Oke. Ini subjektif. Tapi buat saya, pembukaan yang ngena itu yang langsung ngasih konflik di awal. Yang bikin saya bertanya-tanya, ini ada apa? Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?

Coba bandingin sama yang ini. Paragraf pertama dari novel saya yang masih mengendap di draft dan enggak tahu kapan selesainya. :

LINTANG PRAKASA PUNYA PACAR BARU.

Begitu kabar tersebut merebak ke seluruh sekolah, mau tidak mau, Airin mengunci mulutnya rapat-rapat. Memberikan segala doktrin dan titah untuk mengukung segalanya dalam-dalam. Tanpa membiarkan seorang pun merengkuh, meraih ketidakpastian yang selama ini dia buang jauh-jauh.

Bukan berarti gara-gara saya yang makai cerita saya sendiri buat contoh, saya langsung ngerasa cerita saya yang paling bagus gitu. Enggak. Saya masih belajar. Dan lagipula, saya mikirnya gini. Yang kurang ngena kan contohnya pakai cerita saya, berarti yang ada perkembangan harus pakai cerita saya juga dong! Ya udah deh, saya pakai cerita itu.

Kalian bisa bandingin sendiri. Lebih bikin penasaran yang mana, cerita versi atas atau yang versi bawah. Kalau menurut saya sih, saya lebih penasaran sama yang bawah. Nggak tau deh kalau Mas Anang.

Ya udah ya, kayaknya ini udah panjang banget. Jadi saya bakalan misahin tips ini buat jadi beberapa bagian. Biar tangan saya nggak begitu keriting sih. Ntar kalau saya sakit, kan Mas Suga juga yang khawatir. Hehe.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa!

- moonlight

Tidak ada komentar:

Posting Komentar