Kamis, 17 Agustus 2017

Untold (Chapter One)

Untold (a word that means a world)

Cast :
- Justin Bieber as himself
- Barbara Palvin as Stephanie Hugh/Stephanie Jeon
- Kim Taehyung as himself
- Kendall Jenner as Lavender North
- Luke Hemmings as himself
- Kim Jisoo as herself

Chapter One - Begin

Gadis itu membiarkan setiap kata yang dia ucapkan bertransformasi menjadi uap. Melayang bergabung dengan oksigen dan karbonmonoksida di ruang sekitarnya. Manik safirnya mengawang lurus, seolah merefleksikan sebuah polaroid di masa lalu.

"Maksudmu, kau bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai detektif, begitu?"

Steph tak bisa memaksa reaktornya untuk membalas lebih dari menganggukkan kepala. "Aku tak tahu ... dia satu-satunya yang percaya. Saat Lav bahkan menertawai pikiranku--bilang itu konyol dan sebagainya."

Gadis di sampingnya, Kim Jisoo, Steph sudah menebak kalau dia akan meledak. Bukan salahnya kalau Jisoo jadi begitu emosional, dan bertingkah berlebihan semacam ini.

Cewek kelahiran Daegu itu punya hormon yang tak bisa dikontrol. Layaknya seorang ibu yang peduli penuh soal kehidupan anaknya. Dan memang begitulah fakta yang terjadi. Di sini, di London, Jisoo adalah ibu bagi Steph--cewek yang pertama kali berkenalan dengannya di konser boygroup di Seoul.

Cewek itu menghela napas panjang. "Kau tolol, Steph," katanya, dengan bahasa Inggris yang medok parah dan penekanan yang cukup panjang di akhir kata. "Tidakkah kau berpikir kalau dia cuma membuat semacam ... lelucon? Dia cuma mau menertawaimu, harusnya kau sadar sejak awal."

Steph cepat-cepat menggeleng. "Tidak, Jisoo, aku yakin Bieber bukan orang seperti itu," sangkalnya, sambil memejamkan mata. "Aku bisa lihat ... aku tahu dia serius."

Jisoo balas menepiskan tangan, seolah menyapu udara. "Blah, omong kosong," katanya, "Siapa pun punya bakat akting semacam itu."

Steph menunduk, lelah berdebat. Dia tahu Jisoo itu tak akan mau kalau pendapatnya digoyah. Sekali dia bilang ini, maka selamanya pun akan seperti itu. Lagipula, terserah kalau cewek yang setahun lebih tua dibanding dirinya itu melarang. Segala hal sudah terjadi, Steph tak mungkin mengacau janji yang sudah dia buat.

"Omong-omong, Steph," cewek di hadapannya kembali bersuara. "Kau belum menceritakan apa yang terjadi dengan Taehyung-ah padaku."

Lapisan iris safir Steph berkilat, sewaktu dia mengangkat kepala dan menyorot ke arah Jisoo. Cewek itu memang mengenal Taehyung, bahkan dia sendiri yang mengenalkan Steph pada cowok itu. Taehyung sudah mengenal Jisoo sejak lama, sewaktu mereka masih tinggal bersebelahan di Daegu.

Dan itu pun berlanjut hingga kini, di mana keduanya memilih melanjutkan pendidikan di salah satu universitas London.

Steph meneguk ludah, menepis segala bayang mengerikan yang tak henti menyerang cerebrumnya. Tentu saja, dia sudah mendemonstrasikan soal ini di pesta Taehyung kemarin. Semua orang tahu dan tak peduli.

Jisoo pun berhak tahu. Dan kalau misalkan cewek itu menaruh simpati dan bukannya caci maki, itu tidak salah kan?

Jadi, sambil menarik napas panjang, Steph memulai ceritanya.

*

Steph dan Taehyung sudah berpacaran sejak lama. Sewaktu cewek itu masih tinggal di Seoul bersama adik tirinya--Jungkook. Keduanya terkoneksi di banyak hal : tokoh idola, gaya berpakaian, tipe musik, bahkan tingkah yang ajaib.

Apalagi kehadiran Jisoo di antara mereka yang layaknya seorang cupid.

Dan sewaktu itu, tepat di tahun kedua mereka jadi sepasang kekasih, Steph menemukan gelagat yang tidak beres.

Taehyung bukan lagi seorang pemalu yang bersembunyi bersama teman satu rasnya. Lingkup pergaulannya semakin luas, yang bahkan Jisoo pun tak sanggup lagi melarangnya berbuat ini dan itu. Dia kenal banyak orang baru : Lavender North, Lucas Hemmings, Justin Bieber, dan banyak lagi.

Tapi tentu saja, masalah sebenarnya adalah soal Lavender.

Cewek itu punya tingkah yang begitu mencolok. Wajah yang tak pernah absen dari riasan make up, sepatu ber-hak super tinggi, dan pakaian yang seolah kekurangan bahan. Steph benar-benar tidak suka. Apalagi sejak Taehyung mulai mengadakan pesta tidak jelas di apartemennya.

Tapi ada satu hal yang tidak dia mengerti.

Sewaktu membersihkan apartemen Taehyung yang sumpah kotor bukan main, Steph menemukan sekeranjang bunga. Bunga lili, tepatnya, dan sebuah korek api tepat di ujung ruangan. Tidak aneh, kan, kalau dilihat sekilas? Tapi Steph yakin ini tidak beres--bunga itu hanya berwujud kelopak dan bukan penampakan bunga umum. Memangnya Taehyung mau pergi ke pemakaman siapa hanya dengan satu jenis bunga?

Lagipula, apa untungnya menaruh korek api di sebelahnya?

Itu baru keganjalan pertama. Yang kedua, baru beberapa hari yang lalu, Steph menemukan sebuah pistol tergeletak di dashboard mobil pacarnya. Taehyung makin liar? Tidak, Steph yakin bukan begitu. Sebejat apa pun moral cowok itu sekarang, dia tak mungkin tega untuk menyakiti seseorang.

Steph mencoba berpikir positif, mungkin salah satu teman brengsek Taehyung meninggalkan benda itu di sana. Tapi itu bukan hal positif, malah semakin membayanginya tanpa ampun. Kalau temannya saja memiliki pistol, apa yang akan terjadi pada Taehyung kalau cowok itu mencari masalah?

Tapi seolah segalanya belum cukup, sesaat sebelum pesta kemarin dimulai, Steph menemukan satu hal tidak normal lagi. Sebuah tape-recorder dan selembar kertas kosong--dengan gambar yang benar-benar tidak enak dipandang. Tidak, tidak, bukan itu yang pertama kali menangkap personanya. Tapi sebuah boneka yang tergantung di samping benda itu, tepat di balik tirai di jendela.

Tidak mungkin kalau Taehyung sedang merencanakan sesuatu, kan?

Bahkan cowok itu kelihatan terkejut saat Steph memaparkan segalanya kemarin, sebelum Lav menyela dengan keras kalau itu cuma omong kosong. Steph bersumpah dia akan membalas perbuatan cewek itu suatu saat ini.

Pasti dia yang merencanakan semua ini.

Tapi yang tidak Steph mengerti, mengapa?

Mengapa seseorang berniat melakukan ini pada Taehyung?

"Jagi ...," seseorang di sampingnya bersuara. "Kau murung terus sejak tadi, kenapa?" (Sayang)

Steph buru-buru menolehkan kepala, memandang cowok yang punya senyum kotak itu dengan hampa. "Kau tidak percaya," balasnya, "Tidakkah kau mengerti kalau yang kukatakan waktu itu adalah kebenaran?"

Sambil memutar kemudi ke arah kiri, cowok itu menggeleng cepat. "Ani, aku percaya padamu, Stephie," elaknya, "Tapi itu tidak masuk akal." (Tidak)

Steph tak punya pilihan lain selain memalingkan muka. Cewek itu paling benci dengan perdebatan, itu juga sebabnya dia meninggalkan pesta kemarin malam. Dan berdebat dengan Taehyung tentu saja ada di urutan terakhir daftar hal yang ingin dia lakukan.

Biarkan saja waktu yang menjawabnya. Steph hanya perlu mengawasi, kalau-kalau ada keanehan lagi. Seperti kata Bieber beberapa di telepon beberapa waktu lalu.

"Kau benar, Oppa, aku memang tidak waras," ujarnya, tanpa sekalipun menghiraukan tatapan Taehyung yang berubah sendu. "Kau punya air minum?"

Mereka sudah tiba di kampus, dan Taehyung sudah menghentikan mobilnya beberapa menit yang lalu. Cowok itu kini menyorotnya dalam, seolah mengindikasikan sinyal 'maafkan aku'. Steph tahu dia pasti merasa tersinggung dan bersalah gara-gara ucapannya barusan. Tapi cewek itu tidak punya niat untuk meminta maaf.

Jadi, sambil menarik kunci mobil, Taehyung berkata, "Aku bawa sebotol di tas."

Tanpa banyak bicara, cewek itu menarik tas punggung Taehyung yang berada di dekatnya. Menarik ritsleting paling atas membuka, kemudian merogohkan tangan untuk mencari sebotol air mineral. Tapi tidak, bukan itu yang terjaring jemarinya pertama kali.

Tapi sebuah kertas yang sama yang dia lihat di balik jendela. Dengan corak norak yang sama persis--Steph yakin ini bukan kertas yang berbeda. Tapi ada satu hal yang tidak ada pada kertas sebelumnya.

Sederet tulisan.

*

"Kau yakin itu kertas yang sama, Steph?" Suara di ujung sana bertanya ragu.

Steph mengangguk, kemudian segera dia sadari karena itu perbuatan tolol. Bagaimanapun sebuah anggukan tidak bisa terkirim lewat telepon. Jadi dia membalas, "Benar, aku yakin seratus persen."

Tepat di sela-sela pergantian kelas, Steph melipir sebentar ke toilet putri. Cewek itu cepat-cepat menelepon Bieber, si detektif yang Steph tak tahu tinggal di mana. Masih ada sisa waktu lima belas menit untuknya berbincang, dan ini benar-benar darurat. Dan untung saja Bieber tidak dalam mode sibuk.

Cowok di ujung sana berdehem kasar. "Kau yakin tulisan di dalamnya bukan tulisan Taehyung?"

"Betul, Bieber, aku hafal betul bentuk tulisan pacarku. Dia tak pernah membubuhkan titik di huruf i-nya," Steph menyahut.

Terdengar suara kresek-kresek untuk beberapa saat, sampai Steph berniat untuk memutus sambungan teleponnya. Sebelum kemudian suara Bieber yang berat dan kedengaran lebih cempreng muncul kembali. "Bagus, Steph, sejauh ini dugaan kita benar. Pacarmu dalam bahaya."

"Tapi--"

"Apa, Stephanie Jeon? Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas. Di sini ... terlalu ... euh," Bieber itu mulai meracau tidak jelas. Steph mengerutkan alis, tidak paham akan apa yang terjadi. "Kau awasi saja Taehyung, oke? Aku harus ... ada urusan ...."

Dan sambungan terputus begitu saja.

Steph mendengus, sambil mengerling kecil ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggal delapan menit, dosennya pasti sudah dalam perjalanan ke kelas. Cepat-cepat cewek itu melangkahkan kaki, berlari dengan kecepatan super agar tidak terancam hukuman.

Tapi tunggu sebentar, ada sesuatu yang tidak beres.

Heck, si Bieber itu bahkan tidak menyinggung soal isi surat sama sekali.

* To be Continued *

Aduh, maaf banget ya aku udah lamaaaaaa banget nggak apdet. Selain karena ada novel lain yang harus cepat aku selesaikan di wattpad, juga karena aku lagi bete banget. IH SUMPAH AKU KESEL BANGET SAMA BELIEBER YANG NGATA-NGATAIN BTS. huhuhu.

Tapi, ya udah lah, itu udah lewat dan aku lagi kebanjiran inspirasi. Maaf ya ngaret berminggu-minggu. Ini udah panjang belum? Justin-nya baru muncul dikit-dikit nih heuheuhe. Tapi nanti bakal banyak kok scene-nya sama Steph (dasar spoiler).

Ehehe, minta krisarnya dong. Komentarnya yang panjaaaaaang ya, biar aku semangat ngelanjutinnya. Partnya juga udah panjang kan. Ayo dong kasih aku semangat! Kasih tau tanggapan kalian pas baca ff ini. Hehehe.

Thank you.

- Priha

Untold (Prologue)

Untold (A word that means a world)

+

Genre : Teen-fiction, mystery
Tags : school romance, detective case, low mystery
Casts :
- Justin Bieber as himself
- Barbara Palvin as Stephanie Hugh
- Kim Taehyung as himself
- Luke Hemmings as himself
- Kendall Jenner as Lavender North
- Kim Jisoo as herself

*

Author's note :

Well, sebelumnya aku mau minta maaf soalnya nekat pakai cast korea di fanfiction ini. Soalnya, yah, saya harus bener-bener enjoy kalau mau nulis cerita. Dan saya enjoy-nya begini. Jadi, maaf ya kalau ada yang enggak srek. By the way, happy reading.

*

Prologue

*

Memori tetap akan jadi memori.

Segala jejak yang dia lalui jadi saksi bisu bagaimana tangis menghancurkan hidupnya. Kesenyapan memburu. Hanya detak jantung dan embusan napas beratnya yang jadi soundtrack. Bukankah sudah dia bilang kalau yang dia katakan adalah kebenaran? Harusnya cowok itu percaya. Ya, harusnya begitu.

Dia cuma terlalu percaya pada segala omong kosong yang orang asing katakan--orang-orang jahat yang tak henti mengelilinginya. Yang, sadar atau tidak, menggiringnya terjun runtuh secara perlahan.

Harusnya dia tidak semudah itu percaya.

Sekarang bagaimana? Raganya sudah didepak dari segala lingkar di antara mereka. Tidak ada lagi barang secuilpun kemungkinan untuknya datang dan bersikap heroik. Bagaimanapun, mereka bukan orang yang patut dianggap sepele.

"Steph! Listen!"

Cewek itu buru-buru menghentikan langkah. Merapatkan mantel tebal yang mendekapnya, kemudian berbalik dan berdehem panjang. "Kau tidak harus menjelaskan apa pun, Bieber--uh, terserah bagaimana aku harus memanggilmu. Biarkan saja Tae-Oppa tidak percaya. Dia punya hak."

Cowok bermata coklat--atau hijau, dia tak tahu pasti--itu mengangkat sudut bibirnya tinggi-tinggi. Menunjukkan senyum tipis yang belum pernah--atau memang tidak pernah--Steph lihat sebelumnya. "Kau boleh memanggilku Justin," katanya, dan secepat kilat, dia menggelengkan kepala. "Dan kumohon, ini serius. Kau tak boleh menyerah begitu saja. Taehyung dalam bahaya, dan kita berdua tahu."

"Kau siapa?"

Steph tidak berniat kurang ajar, tentu saja. Tapi rasionalnya bersikeras kalau siapa pun Justin-Justin ini, Steph tak pernah mengenalnya. Hanya sekali, sewaktu Taehyung mempertemukan mereka berdua di pesta dansanya. Itu pun dengan embel-embel tidak tolol semacam, 'Dia pernah jadi pacar teman dari sepupu teman dari teman adikku. Cuma bercanda, Just. Jangan sensi.'

Dan sekarang, cowok itu berada di depannya. Dengan sebuah keterburuan dan rahasia besar yang tidak dia tahu. Tapi Steph sadar akan satu hal : mereka berdua tahu soal konspirasi yang bersembunyi di balik punggung Taehyung.

Cowok itu berdehem. "Aku Justin Bieber," ujarnya, "Seorang detektif yang kebetulan jadi sahabat Kim Taehyung."

"Jadi, kau mau bekerja sama untuk menghindarkannya dari bahaya?"

To be continued

Masih prolog ya shawty, dan pemeran lainnya pun belum muncul. Aku janji kalau banyak yang suka bakal aku bikin lebih panjang kok.

Thank you.

- moonlight

Senin, 27 Maret 2017

Pembawaan yang Klise

Di beberapa post yang lalu, saya udah janji mau ngasih tau contoh pembawaan yang klise. Atau, bisa dibilang, kesalahan yang paling sering dilakukan sewaktu membawakan sebuah cerita.

Saya tau cerita saya juga masih belum bisa dibilang wow. Tapi, enggak ada salahnya kalau saya mau berbagi, kan? Di sini kita belajar bareng-bareng. Saya ngasih tau kamu ilmu yang sudah saya ketahui, dan kamu ngoreksi saya kalau misalkan saya salah.

Clear.

Jadi, dari pada basa-basinya malah sepanjang kakinya Jaehyun, mendingan kita mulai aja ya.

Pembawaan yang klise, eum, saya sendiri juga belum begitu paham sama konsep ini. Kalau dibilang begini, takutnya malah begitu. Ya udah, saya jelasin aja menurut penafsiran saya sendiri. Kalau saya salah, kan, saya bisa berkilah kalau ini cuma opini, hehe.

Jadi, pembawaan yang klise itu apa aja sih?

1) Pembukaan yang kurang ngena.

Ini udah pernah saya bahas di bagian 'Cerita yang Klise Mampus' dan saya juga udah ngasih beberapa contohnya. Tapi kalau kalian lupa, ya udah, saya jelasin lagi.

Pembukaan yang kurang ngena itu, tipe-tipe awal cerita yang bikin pembaca rolled eyes sambil bilang dalam hati, "apa sih?"

Bukan jelek. Cuma ya, kurang dipoles aja. Jadinya pembaca banyak yang nggak betah dan langsung ninggalin cerita kamu. Unch, kesalahan ini, menurut saya, adalah kesalahan paling fatal--sefatal salah saat pemilihan judul. Karena, yah, bisa aja kan cerita kamu yang wah itu jadi sedikit banget peminatnya gara-gara pembukaanmu yang kurang ekstra itu?

Bahkan, di beberapa tips menulis, saya selalu menemukan kalimat--kalimat aslinya bukan gini, saya agak lupa. Tapi ya udah deh saya jelasin pakai kalimat saya sendiri--, "Paragraf Pertama adalah akar dari segala rasa suka."

Kalau paragraf pertama kamu bagus, kemungkinan pembaca nyelesaiin sampai akhir jadi makin besar. Tapi kalau paragraf pertama kamu biasa-biasa aja, ya, gitu deh akhirnya.

Butuh contoh paragraf pertama yang masuk kategori 'kurang ngena'? Ya udah, saya ambilin dari salah satu cerita 'aib' saya ya. (Tolong jangan ketawa sewaktu baca cuplikan ini.)

"Bangunlah, Sayang, ini hari pertamamu ke sekolah. Kau mau terlambat?" ucap seorang laki-laki berusia 17 tahun itu. Yeah, dia sedang membangunkan adiknya. Dia sangat memanjakan dan terlalu over-protective kepada adiknya. Terlebih, sekarang mereka hanya tinggal berdua. Orang tuanya, Trisha dan Yaser sedang berada di Bradford sekarang.

Zayn Malik, siapa yang tak mengenalnya? Pria jebolan X-Factor bersama grup band-nya, One Direction, ini sudah menjadi pria paling populer tahun ini. Zayn memiliki nama asli Zayn Jawadd Malik, namun dia lebih senang mengejanya dengan Zayn Javadd Malik. Ia memiliki seorang adik perempuan yang bernama Prihatini Calerrie Malik, atau yang akrab disapa Priha.

(ini bukan paragraf pertama lagi lol)

Unch. Sewaktu baca paragraf di atas, apa yang kalian rasain? Jijik? Prihatin? Mau muntah? Ya udah, nggak papa. Saya sendiri juga ilfeel kok. Di atas itu termasuk pembukaan yang kurang ngena karena, terlalu muter-muter. Dan yah, terlalu pasaran juga.

Kenapa enggak langsung ke intinya aja? Kenapa pakai nyeritain soal Zayn yang anu yang beginu? Kenapa enggak langsung ke konflik? Kenapa? K E N A P A?

(omong-omong, lihatlah, betapa alaynya saya sampai bikin nama saya sendiri buat jadi tokoh utamanya!)

Terus, pembukaan yang ngena itu yang kayak gimana?

Oke. Ini subjektif. Tapi buat saya, pembukaan yang ngena itu yang langsung ngasih konflik di awal. Yang bikin saya bertanya-tanya, ini ada apa? Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?

Coba bandingin sama yang ini. Paragraf pertama dari novel saya yang masih mengendap di draft dan enggak tahu kapan selesainya. :

LINTANG PRAKASA PUNYA PACAR BARU.

Begitu kabar tersebut merebak ke seluruh sekolah, mau tidak mau, Airin mengunci mulutnya rapat-rapat. Memberikan segala doktrin dan titah untuk mengukung segalanya dalam-dalam. Tanpa membiarkan seorang pun merengkuh, meraih ketidakpastian yang selama ini dia buang jauh-jauh.

Bukan berarti gara-gara saya yang makai cerita saya sendiri buat contoh, saya langsung ngerasa cerita saya yang paling bagus gitu. Enggak. Saya masih belajar. Dan lagipula, saya mikirnya gini. Yang kurang ngena kan contohnya pakai cerita saya, berarti yang ada perkembangan harus pakai cerita saya juga dong! Ya udah deh, saya pakai cerita itu.

Kalian bisa bandingin sendiri. Lebih bikin penasaran yang mana, cerita versi atas atau yang versi bawah. Kalau menurut saya sih, saya lebih penasaran sama yang bawah. Nggak tau deh kalau Mas Anang.

Ya udah ya, kayaknya ini udah panjang banget. Jadi saya bakalan misahin tips ini buat jadi beberapa bagian. Biar tangan saya nggak begitu keriting sih. Ntar kalau saya sakit, kan Mas Suga juga yang khawatir. Hehe.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa!

- moonlight

Kamis, 23 Maret 2017

Karena Tipikal itu Saya Suka

"karena yang klise itu, biar gimanapun, adalah yang paling disukai."

Saya pernah bikin tips di wattpad saya, soal hal-hal klise macam apa yang harus dihindari. Saya masih inget banget kalau bahasa saya waktu itu masih kasar banget dan, yah, saya tahu. Sewaktu kalian membaca ini, tolong, saya mohon, jangan membuat saya merasa stigma atau memberi sinyal-sinyal negatif kepada saya.

Karena sekarang, saya akan membahas sesuatu yang kontradiksi.

Saya pernah bilang kalau cerita klise itu, cerita yang pasaran dan yah, terlalu gampang ditebak. Dan sekarang, saya bakal bahas soal cerita klise itu sendiri.

Kenapa sih, sebuah cerita bisa masuk ke kategori klise?

Jawabannya, ya, karena cerita itu banyak yang minat.

Jadi gini, menurut penafsiran pribadi saya, cerita klise itu ceritanya berjuta umat. Formula yang udah ditulis berkali-kali. Istilah pendeknya, pasaran.

Tapi buat saya, ide klise itu nggak papa kok.

Sekarang, sudah cukup kesel sama kelabilan saya?

Jadi sebelum kalian berpikir macam-macam, saya tegasin. Di wattpad saya @moonlight-ty saya ngebahas soal pembukaan cerita dan karakter yang klise. Dan bukan keseluruhan cerita itu sendiri.

Karena sebenarnya, saya suka sama cerita yang klise.

Kenapa sih banyak bertebaran cerita yang klise? Karena ide yang mereka pakai itu terkenal.

Kenapa bisa terkenal? Karena banyak yang suka!

Oke, sekarang, kalian udah tiba di inti yang mau saya sampaikan.

Punya ide klise itu enggak apa-apa kok. Asal cara kalian mengemasnya itu enggak klise.

Masih bingung?

Ya udah, saya jelasin.

Jadi gini, ide yang klise itu apa aja sih? Cewek-cowok musuhan dulu baru saling cinta, itu klise. Kisah cinta cowok kaya dan cewek miskin, itu juga klise. Suka sama kakak kelas dingin yang ternyata ngegebet sahabat kita sendiri, itu apalagi.

Tapi enggak bisa dipungkiri, cerita modelan begitu yang paling banyak penggemarnya. Menurut kacamata saya.

Cerita itu punya banyak potensi buat bikin pembaca suka, kalau pembawaan kamu enggak klise juga. Pembawaan yang klise maksudnya gimana? Itu bakal saya bahas di post-an yang akan datang.

Jadi, intinya, ide cerita yang klise itu enggak apa-apa. Asal kalian bisa memoles cerita kalian supaya enggak begitu menunjukkan ke-klise-an yang kalian tawarkan.

Ya udah ya, saya udah bacot banyak banget. Nanti kalian gumoh. Lagian saya udah ditungguin Taehyung buat belajar UAS bareng. Hehe.

Salam cinta
Moonlight

Sabtu, 18 Maret 2017

Butterfly

Like a butterfly


Satu dari sekian banyak hal yang membuat saya baper di dunia ini adalah, lagu. Oke, saya tahu selera musik saya itu bukan yang spesial banget seperti kebanyakan tokoh utama di novel remaja. Karena,yah, saya penggemar lagu-lagu populer.


Tapi di atas segalanya, saya suka lagu mellow.


Dari jaman dulu. Sewaktu saya masih ngefans sama CJR dan artis Indonesia lainnya. Tanya aja lagu favorit saya dari setiap artis yang saya tahu, pasti saya bakalan jawab lagu yang paling galau.


Kayak, Close as Strangers-nya 5 Seconds of Summer, Moonlight-nya EXO, Paradise-nya NCT, sama Rain-nya BTS.


Enggak tahu kenapa saya suka banget sama hal-hal yang bikin saya nangis keras.


Contohnya cowok itu.


Sebelumnya, sebelum bahas soal cowok brengsek yang matahin hati saya dengan begitu hebatnya, saya mau cerita dulu. Tadi pagi, karena saya baru jadi ARMY dan lagu BTS saya masih sedikit, saya mutusin buat download lagu mereka yang lain. Saya cari deh rekomendasi lagu mereka yang galau.


As always.


Dan kemudian, saya nemu lagu ini.


Butterfly.


Dari awal aja, saya udah tertarik sama judulnya. Kupu-kupu. Di pikiran saya, ada apa dengan kupu-kupu sampai bikin lagu ini baper?


Dan ternyata...


gyeote meomulleojullae
Naege yaksokhaejullae


Saya nggak tau liriknya, soalnya itu juga saya downloadnya pas mrepet paketan saya mau habis. Tapi dari uraian yang saya baca. Lagu ini persis seperti yang saya alami.


Jadi gini, saya suka sama cowok. Udah sejak lama, sejak kami masih sahabatan beberapa tahun yang lalu.


Buat saya, dia itu kupu-kupu, cantik dan saya suka. Seperti kupu-kupu yang sedang hinggap di suatu tempat enggak jauh di depan saya. Dengan anggunnya dia menarik hati saya, membawa saya mengikutinya.


Tapi tangan saya, yang begitu berharap akan kecantikannya, tidak bisa sekalipun menggapai. Atau sekadar menampakkan diri saya di dekatnya.


Karena saya tahu, saya cuma akan membuatnya terbang jauh dan tinggi.


Butterfly... Like a butterfly
neon machi butterfly


Dan cowok itu, cowok yang sama yang membuat saya merasa patah hati untuk pertama kali. Cowok yang sama yang membuat saya merasa jatuh : Bi.


Saya tahu saya sudah bersikap sangat berlebihan karena membahas cowok itu terus-menerus. Padahal, harusnya saya ngisi blog ini dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.


Tapi saya nggak tahu harus cerita lagi ke siapa.


Begitu denger suara Jungkook yang dalam dan memabukkan dari lagu ini, saya langsung inget cowok itu. Karena, pertama, seperti yang saya bilang, kisah lagu ini sama seperti saya. Yang cuma bisa mengagumi keindahannya dari jauh, tanpa bisa sekalipun menggapainya.


Dan alasan yang kedua, karena Jungkook adalah nama panggilan lain yang saya berikan pada cowok itu. Sewaktu saya curhat sama sahabat saya, saya manggil si Bi pakai Jungkook. Biar orang lain enggak tahu siapa yang lagi saya bahas. Soalnya, yah, nama panggilan mereka mirip. Kuki dan--ekhm.


Dan, ya udah deh, saya enggak mau bahas lebih banyak lagi. Nanti kalian gumoh gara-gara saya curhat soal Bi mulu.

Sampai jumpa!
- moonlight

Minggu, 05 Maret 2017

Saat Ide Mengajak Perang

Perang aja yuk!

Tunggu-tunggu, sebelum kalian berpikiran negatif soal post-an saya. Tarik napas dulu, yang dalam. Tahan tiga puluh--jangan deh, kelamaan, tahan sepuluh detik aja gitu dulu. Habis itu embusin. Terus pikir baik-baik ; saya nggak ngajak ribut kok.

Orang saya mau perang sama ide. Kok kalian yang ribet sih?

Iya-iya, saya tau sekarang saya malah nyari ribut beneran. Maafin tangan saya yang agak bandel ini ya.

Jadi, sebelum kalian ngoceh panjang kali lebar kali tinggi (dan jadilah rumus volume balok!) soal ide yang nggak bersalah, dan saya yang harus ikut menciptakan perdamaian dunia (seperti di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat). Saya mau tegasin, jadi saya mau bikin tag baru yaitu : tips menulis.

Iya, tau kok saya masih ecek-ecek kayak kecebong dan belum bisa dipercaya. Tapi apa salahnya berbagi, sih? Ya nggak? Hehe. Lagian, daripada blog ini saya isi sesuatu yang enggak bermanfaat dan ujungnya ghibah, kan lebih baik saya berbagi ilmu.

Selamat Pagi wahai pembaca yang budiman.

Budiman aja, kok. Nggak ada Tara-nya di depan. Soalnya kan, nggak mungkin artis kayak dia ngunjungin blog rakjel kayak gini.

Oke. Saya mulai ngelantur.

Jadi, seperti yang udah saya bilang di judul. Sekarang saya lagi ngerasain dimana ide ngirimin saya ajakan buat perang.

Seperti manusia yang punya dua sisi--buruk dan buruk banget, maksud saya, dan baik--, perang yang saya maksud juga ada dua makna. Seperti pepatah, 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jadi jomblo tersakit(i) dahulu, tertawa di atas penderitaan orang kemudian.' (ya ampun saya mabok lagi.), jadi, saya bakal utamakan tafsiran negatif dulu.

Perang dalam sisi negatif ya, gitu. Ya gitu.

Y a g i t u.

Oke serius. Maksud saya, perang dalam sisi negatif artinya, ya yang kayak ngajak tawur, yang bikin kesel. Dan sekarang, saya lagi ada di posisi ini. Soalnya, beberapa hari lalu, si ide ngirimin saya email, isinya gini : 'halo, moonlight. Perang yuk! Kalau lo nggak berani berarti lo cemen alias loser!' (kalian nggak mungkin percaya soal ini, kan?)

Kalian masih belum nangkap apa yang saya maksud? Ya udah, saya jelasin rinci.

Jadi, di tengah kesibukan saya menggarap novel pertama saya--yang punya nama Stitch & Pain--, dan mengumpulkan pasukan perang buat ngelawan tryout dan sebagainy. Si ide ini langsung main masuk ke otak saya, tanpa ketuk pintu dulu. Kan saya kesel.

Yah, gimana sih. Kan novel saya yang pertama belum selesai! Kenapa harus muncul ide yang nggak ada hubungannya sama sekali?!

Apa salah saya? A P A?

Tapi tenang, saya kan titisan superman. Jadi, saya udah nemuin solusi buat mengatasi masalah ini--buat kalian yang gatel pingin nulis cerita baru padahal cerita yang lama belum selesai. Solusinya adalah :

Tulis ide kalian di note.

Iya. Sesimpel itu. Kalian pasti udah nebak, kan? Tapi, serius deh, walaupun kelihatannya sepele, ini bermanfaat banget. Soalnya gini, kalau kita enggak segera nulisin ide itu, bisa aja kan ide kalian yang brilian dan indah itu kabur dan nyari orang lain buat dihinggapi? Jadi, kalian harus nangkep ide itu dulu, biar nggak keburu ditangkap sama penulis lain.

Tapi jangan langsung diuraiin jadi cerita baru!

Jadi, kalian tulis garis besarnya aja di note hp atau buku catetan kalian. Biar konsentrasi kalian buat nulis novel yang belum selesai itu nggak pecah. Biar kalian enggak lupa soal ide itu.

Kayak misalkan, pas lagi di kafe, kalian ketemu ada cewek yang lagi ngobrol sama baristanya. Terus, tiba-tiba ada ide yang hinggap di kepala kalian.

Gimana kalau misalkan cewek itu ternyata cewek yang ngejar-ngejar si barista di kampus? Dan ternyata si baristanya udah punya istri?

Waduh!

Nah, sekarang tahu kan pentingnya mencatat ide?

* t i p s m e n u l i s *

Perang versi kedua, adalah perang dalam konteks positif. Jadi, si ide ini, nggak kayak ide pertama yang nggak punya sopan santun, dia dateng pas kamu emang butuh banget. Jarang, sih, yang kayak gini. Soalnya, kan, ide itu datangnya nggak pasti ; kayak perasaanmu ke saya.

Tapi, yah, ide versi kedua juga ngajak perang. Tapi perang dalam versi kebaikan. Jadi dia kayak nyemangatin kamu dengan wajah paling cakep sambil bilang, "Ayo dong, Sayang, tuangin aku ke tulisan! Semangat!" *brb pasang wajah Taeyong Oppa *brb pingsan

Jadi, dia itu kayak nantang kamu buat bikin cerita soal dia. Nantang kamu buat nulis cerita baru. Yah, enggak jauh beda sama ide versi pertama, sih. Cuma yang versi kedua ini enggak terlalu bikin frustrasi.

Ya udah ya. Kayaknya ini udah panjang banget. Habis ini saya bakalan post tips menulis yang pernah saya upload di wattpad. Dengan beberapa perubahan, tentu saja. (silakan kunjungi akun wattpad saya di sini) pantau terus blog ini ya!

고맙습니다

사랑

Moonlight

Sabtu, 04 Maret 2017

Saya dan Jomblo

Saya nggak tahu ada hubungan apa antara saya dan jomblo.

Saya baru ingat. Kita kan belum kenalan secara resmi. Di post-an pertama saya yang nggak jelas itu, kan, saya cuma minta kalian buat manggil saya moonlight. Jadi, sekarang, kita kenalan lagi ya.

Seperti yang udah saya kasih tahu, kalian bisa manggil saya moonlight. Bukan gara-gara saya mau nyamar, atau mendadak amnesia dan lupa sama nama asli saya. (toh, kalian juga tetep bisa tahu nama saya dari kata 'diposkan oleh'...) Tapi gara-gara, enggak tahu kenapa, sekarang saya suka banget sama bulan.

Ketika tulisan ini dipublikasi--kali aja ada yang baca dari masa depan--umur saya masih empat belas, dan saya sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian nasional. Jadi maaf ya kalau misalkan blog ini mendadak banyak lumutnya atau apa.

Terus, sekarang saya lagi proses ngerampungin naskah novel pertama saya. (Soalnya belum resmi disebut novel kalau belum diterbitin, huhu.) genrenya teenlit, tipikal remaja seperti saya yang mikirnya cinta-cintaan mulu. Dan mendekati klimaks novel, saya malah dapet ide buat nulis cerita lain.

Kan brengsek.

Dan juga, sebelum alis kalian mengerut gara-gara banyaknya foto 'cowok cantik' di sini. Saya mau bilang, saya fangirl. Kalian pasti tau fangirl, kan? Iya, saya penggila cowok-cowok tampan nan cakep nan seksi itu.

Dan saya mau bilang, fangirl versi saya itu agak labil. Saya sudah jadi fangirl sejak SD. Kelas 5 saya ngefans sama Coboy Junior, dan member favorit saya Iqbaal, yang punya gigi behel itu. Tapi semenjak Bastian keluar, saya jadi agak males sama artis Indonesia--gitu-gitu semua. Dan yah, akhirnya saya pindah ke artis hollywood. Saya suka sama Justin Bieber.

Kalau saya jelasin satu-satu, pasti bakalan panjang banget dan bisa jadi cerpen. Ya udah, saya singkat aja. Jadi habis Justin Bieber, saya ngelirik boyband lagi. Dan yang jdi korban saya adalah One Direction.

Karena saya itu kalau ada member yang keluar jadi agak malesan. Jadilah, habis Zayn Malik keluar, saya langsung ngestan 5 Seconds of Summer habis-habisan. Dan sekarang ditambah, saya lagi kena demam Korea.

Saya jadi penggila beratnya EXO. NCT. Dan BTS.

Kalian udah tahu seberapa labilnya saya? Ya udah. Kalau gitu, maklumi aja ya kalau misalkan saya jadi labil banget suatu saat nanti.

Perkenalan aja bisa sepanjang ini ya. Kalau saya nulis autobiografi bisa sepanjang apa. Hahaha. Kalau kalian sebel dan bingung nyari hubungan antara perkenalan nggak penting ini dan jomblo. Bentar, bakal saya jelasin.

Kalian jangan mikir jomblo punya hubungan gelap sama cewek lain dulu!

Soalnya, gara-gara rasa fangirl saya yang enggak terbendung, kriteria saya jadi tinggi. Dan cowok-cowok jadi ilfeel duluan, kalau saya bandingin mereka sama idola-idola saya yang kece itu. Saya tahu mereka emang enggak tahu diri.

Jadilah, sejak empat belas tahun hidup, saya cuma bisa memandangi status teman saya dan pacarnya yang lewat di beranda. Tolong tambahkan dengan alis mengerut dan sambil menahan tawa. Soalnya, yah, tipikal remaja masa kini.

Statusnya alay abis.

Tapi saya enggak sepurba itu, kok. Seperti yang udah saya bilang di post-an sebelumnya. Sebagai seorang remaja, saya juga jatuh cinta. Dan sialnya, saya malah suka sama cowok nggak jelas kayak si Bi. (baca dulu siapa itu Bi di sini)

Saya bukannya mau koar-koar menyedihkan kalau saya itu jomblo. Enggak. Saya enggak sealay itu.

Saya cuma mau cerita aja, gimana kejombloan itu bisa melekat di diri saya.

Sebenernya, saya suka sama orang itu enggak ada kriteria. Kalau saya suka ya udah, suka. Mau dia tinggi, pendek, nggak punya alis, kayak kecebong. Kalau udah telanjur suka ya, gimana lagi?

Tapi masalahnya, kalau saya suka sama sesuatu dan saya belum dapetin dia. Hidup saya nggak bakal tenang. Saya bakal terus suka dan, yah, mengabaikan cowok-cowok di sekitar saya.

Saya enggak se-mengenaskan itu kali. Masih ada beberapa cowok yang ngedeketin saya, tapi nggak saya acuhkan. Soalnya, yah, hati saya udah milih orang lain. Harus gimana? (ya ampun bahasa saya udah cinta-cintaan kayak orang dewasa!)

Tapi sialnya, dengan wajah saya yang seperti ini. Enggak ada yang berani ngedeketin saya secara terang-terangan. Soalnya mereka bakal disorakin dan malu.

Dasar cowok munafik.

Tapi nggak papa sih, saya beruntung belum pernah ngerasain yang namanya pacaran.

Soalnya saja jadi manusia yang masih polos nan syucih.

Ya udah ya, kayaknya ini udah panjang banget. Nanti kalian capek bacanya. Wkwk. Salam jayus, dan Gomabseumnida!

(p.s : Jaehyun saja punya Haechan, masa aku tida?)